Makalah ini mencoba menggali eksistensi dan fungsi mantra dalam kehidupan masyarakat Sunda yang terdapat dalam khazanah naskah Sunda. Pemaparan makalah ini didasarkan kepada adanya beragam fenomena masyarakat Sunda yang bersentuhan dengan perlakuan masyarakat terhadap mantra. Di samping itu, makalah ini pun dilatarbelakangi oleh adanya fakta bahwa sebagian masyarakat ada yang secara nyata menunjukkan sikap apriori terhadap eksistensi dan fungsi mantra. Namun di pihak lain, masyarakat yang memanfaatkan mantra untuk kepentingan tertentu pun masih menunjukkan keterikatan yang tidak dapat disangkal. Keterikatan yang dimaksud dapat dibuktikan dengan persebaran naskah-naskah mantra di masyarakat. Hal ini menunjukkan adanya suatu proses penerimaan di lingkungan masyarakat para penghayat mantra terhadap eksistensi dan fungsi mantra.
Secara faktual, terdapat dua golongan sehubungan dengan pemanfaatan mantra, yaitu penghayat dan bukan penghayat mantra. Terbukti pula bahwa hingga saat ini, pemanfaatan naskah-naskah yang memuat mantra untuk berbagai kepentingan masih tampak di dalam masyarakat, baik yang berhubungan dengan perilaku religi atau berbagai aktivitas kehidupan lainnya.
Berdasarkan fenomena tersebut, sungguh sangat menarik apabila dilakukan kajian terhadap naskah-naskah yang memuat mantra untuk diketahui secara kuantitatif keberadaannya. Adapun, guna mengetahui latar belakang dan pemecahan konflik yang terjadi, perlu kiranya ditelaah berbagai persepsi, sikap, dan perilaku/tindakan. Selanjutnya, ditelusuri korelasinya dengan fenomena yang terjadi di masyarakat yang memunculkan berbagai konflik.
Melalui makalah ini, dapat diketahui secara lebih tegas eksistensi dan fungsi mantra di dalam masyarakat. Dengan pengetahuan tersebut, diharapkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap eksistensi dan fungsi mantra. Dengan bekal pemahaman yang memadai terhadap eksistensi dan fungsi mantra, diharapkan akan terciptanya kesadaran dari masyarakat secara lebih baik yang direalisasikan melalui sikap dan tindakan saling menghargai tanpa harus merusak harmonisasi tatanan kehidupan yang telah terbina sebelumnya.