KIBS I, 22—25 Agustus 2001

Tari Sunda

Enoch Atmadibrata

Kebudayaan Sunda paling terbuka terhadap pengaruh dari budaya luar, mengingat bahwa Tatar Sunda menjadi daerah penyangga Ibukota Indonesia. Ditambah oleh lokasi alam dan lingkungannya yang nyaman serta masyarakatnya yang ramah, sehingga banyak pendatang untuk bermukim dan berbaur. Maka budaya Sunda sebagai budaya asli daerah mengalami pelonggaran dalam kebakuannya.

Patut disyukuri bahwa budaya Sunda selama berabad-abad belum lenyap, bahkan bidang keseniannya menunjukkan jumlah yang cukup banyak dibandingkan dengan daerah lainnya. Walaupun di dalam budaya Sunda terjadi perkembangan, termasuk ciri-ciri khasnya yang juga ikut berkembang dan bergeser.

Karya-karya lama (tradisional) masih dapat kita saksikan seperti halnya: Ibing Ngekngek di Rancakalong Sumedang dan Ibing Ngalage di Banten Selatan yang dilakukan oleh semua umur dalam sebuah upacara tertentu di masyarakat Adat. Tari Topeng di masyarakat Cirebon berpusat di desa-desa, yang masih memiliki nilai ritual serta ditarikan tanpa mengenal usia. Keutuhan sebagai tari silaturahmi masih dapat kita jumpai dalam bentuk asli serta bentuk perkembangannya, seperti Ronggeng Gunung dan Ketuk Tilu Buhun di Pangandaran. Begitu juga karya-karya baru yang tumbuh subur dan menambah khasanah Tari Sunda. Sebagai bukti, betapa maraknya perkembangan atau karya-karya baru baik hasil karya sanggar-sanggar tari, maupun lembaga-lembaga pendidikan formal.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III