Belakangan ini, apresiasi masyarakat Muslim Indonesia terhadap khazanah intelektual nenek moyang mulai tumbuh dan berkembang. Banyak skripsi, tesis, bahkan disertasi yang mengulas kehidupan seorang tokoh yang hidup di masa lalu, berikut karya tulisnya yang masih layak dijadikan pegangan. Sudah ada rasa percaya diri untuk menampilkan karya domestik, sebagai sumbangan terhadap wacana intelektual global.
lni terjadi karena ada kesadaran baru di kalangan sarjana Muslim bahwa antara kawasan Islam pusat dan Islam pinggiran telah meretas. Sebelumnya, Timur Tengah dianggap sebagai pusat dan Asia Tenggara, termasuk kawasan Melayu, merupakan kawasan pinggiran saja. Menurut A.H. John, kondisi ini terjadi seiring dengan kemunculan Indonesia dan Malaysia sebagai negara bangsa. Maklum, mayoritas penduduk di kedua negara tersebut adalah pemeluk Islam (John: Yayasan Obor Indonesia, 1989). Di samping itu, menurut Taufik Abdullah, proses itu terjadi karena monopoli ilmuwan asing dalam penelitian Islam berkurang, seiring dengan keterlibatan ilmuwan Indonesia dalam bidang yang sama, khususnya ilmuwan dan kalangan lAIN (Abdulah: Remaja Rosda Karya, 1999).
Sayang sekali, pembuatan karya tulis di atas, seringkali tidak komprehensif. Artinya, yang dibahas secara rinci hanya salah satu bidang keilmuan, bahkan dipersempit pada salah satu karya tulis yang digeluti sang tokoh. Padahal, masih banyak bidang lain, juga karya tulis lain, yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sang tokoh dan masih sangat layak untuk dipelajari di masa kini, atau bahkan di masa mendatang. Kalau tidak begitu, karya-karya beberapa tokoh dipelajari bersama, lalu dicarikan persamaan dan peranannya pada masa itu.
Namun, di masa-masa mendatang, diperlukan sebuah penelitian yang mengulas tuntas pemikiran seorang tokoh, mengenai masalah-masalah yang digeluti atau dialami selama hidupnya. Ini penting untuk mengetahui tingkat kompleksitas masalah dan bagaimana sang tokoh merespons, sesuai dengan latar belakang keagamaannya. Di sini, generasi sekarang, dan generasi mendatang, bisa mengetahui peran agama dalam merespons kompleksitas kehidupan, berikut peran kompleksitas itu terhadap pola keagamaan. Hanya dengan cara ini, kita akan menemukan "Islam Sejati", yaitu penyetubuhan antara teks suci dengan konteks kehidupan. Di sini, agama bukan sesuatu yang jadi, tapi proses untuk menjadi. Dalam konteks kekinian, ini sangat diperlukan, apalagi di masa-masa mendatang.
Karena itu, kami bermaksud untuk meneliti dan melacak literatur, pikiran Haji Ahmad Sanusi, seorang tokoh nasional dan Sunda yang hampir terlupakan. Padahal, beliau sangat gigih dalam menentang penjajahan Belanda sehingga harus mendekam di penjara atau mendapat tahanan kota. Di zaman Jepang, tokoh ini terpilih menjadi salah satu anggota Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Di zaman kemerdekaan, ulama ini duduk sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Tatkala S.M. Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia, ia menolak bergabung. Tahun 1950, ia menghadap Allah untuk selama-lamanya.
Ulama kelahiran Sukabumi, 18 September 1888, masih mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat Priangan, Jawa Barat. Karya--karyanya digunakan di pelbagai pesantren. Karena itu, Martin Van Bruinessen menyebutkannya sebagai pengarang kitab yang terkenal (Bruinessen: Mizan, 1999). Tercatat kurang lebih seratus karya telah ia tulis di dalam berbagai disiplin ilmu, seperti al-Lu'lu an-Nadlid, Tauhid al-Muslimin (bidang tauhid); Hilyat ash-Shibyan, aI-Jauharat al-Mardhiyyah (bidang fikih); dan Mandhumat ar-Rijal (bidang tasawuf) (Gunseikanbu: Gadjah Mada University Press, 1986).