KIBS I, 22—25 Agustus 2001

Tinjauan Nilai-Nilai Lama pada Tinggalan Kabuyutan di Indramayu

Libra Hari Inagurasi

Indramayu merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi Jawa Barat. Secara astronomis Indramayu berada pada 107º 36' Bujur Timur dan 6º 5' 6º 40' Lintang Selatan. Adapun secara geologis, daerah Indramayu sebagian terbentuk dari endapan sungai. Delta Sungai Cimanuk merupakan bagian paling timur dari deretan endapan delta yang berbentuk pantai utara Jawa Barat. Sungai Cimanuk bermuara pada batas timur dataran pantai utara Jawa Barat yang juga dikenal dengan nama Ujung Indramayu. Aliran Sungai Cimanuk pada umumnya ke arah barat laut, sehingga mengakibatkan pertumbuhan delta ke arah laut.

Masyarakat di Indramayu mengenal kabuyutan yang secara historis memiliki hubungan dengan kedatangan agama Islam serta pertumbuhan permukiman di sana. Kabuyutan identik dengan tradisi penghormatan kepada leluhur yang dianggap berjasa oleh suatu kelompok masyarakat, karena tokoh itu telah menyebarluaskan agama Islam atau tokoh yang membuka suatu lahan menjadi permukiman. Mereka membuat suatu tanda (dapat berupa bangunan, atau lainnya) pada suatu lokasi yang pernah disinggahi atau bekas tempat tinggal seorang tokoh sejarah, dan mereka menamakan kabuyutan.

Kegiatan survei terhadap tinggalan arkeologi di daerah Indramayu telah dilakukan oleh Bidang Arkeologi Islam, Pusat Arkeologi, serta Balai Arkeologi Bandung. Dari kegiatan survei tersebut diketahui bahwa tinggalan arkeologi yang terdapat di Indramayu berasal dari masa sejarah Islam abad ke-16, serta masa pengaruh Eropa Belanda abad ke-17, yang meliputi makam kuno, masjid kuno, fragmen keramik asing Cina dan Eropa, perahu kuno, bangunan tempat tinggal, bangunan perkantoran. Di samping tinggalan-tinggalan tersebut terdapat pula tinggalan lain yang dinamakan kabuyutan.

Dibandingkan dengan tinggalan arkeologi yang terdapat di daerah pedalaman Jawa Barat seperti yang di Garut yang berasal dari abad ke-8, maka umur tinggalan arkeologi di Indramayu relatif lebih muda. Tinggalan kabuyutan di Indramayu, pada umumnya ditujukan kepada objek berupa makam kuno, serta struktur suatu bangunan, misalnya susunan batu. Sebaran kabuyutan di Indramayu sangat luas, hampir dapat ditemukan di seluruh kawasan Indramayu. Upacara-upacara tradisional mapag sri, sedekah bumi, dan munjung, diadakan di kabuyutan.

Di dalam kasus kabuyutan di Indramayu ini, terdapat dua hal yang bertolak belakang. Secara historis, kabuyutan dikenal oleh masyarakat etnis Sunda sejak dari masa Hindu, tetapi pada masa kemudian diterapkan pula kepada tinggalan masa Islam. Sehubungan dengan latar belakang tersebut di atas, maka di dalam tulisan ini diangkat permasalahan tentang nilai-nilai apakah yang terdapat pada tinggalan kabuyutan di Indramayu. Dari permasalahan tersebut, tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui proses pengenalan masyarakat Indramayu terhadap apa yang dinamakan kabuyutan.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III