KIBS I, 22—25 Agustus 2001

Mitos Si Kabayan 'Serakah' dalam Cerpen "Gual-Guil" Karya Godi Suwarna

Memen Durachman

Selama ini kita mengenal Si Kabayan sebagai tokoh yang lugu, bahkan lebih dekat kepada `dungu'. Begitulah orang banyak menganggap Si Kabayan. Bahkan ada pula yang menganggap manusia Sunda itu mirip-mirip Si Kabayan dalam kedunguan dan kemalasannya. Sekalipun demikian, ia tidak hanya hadir sebagai manusia satu dimensi, melainkan harus kita pandang sebagai manusia multidimensi, bahkan sebagai manusia paradoksal.

Dalam kaitan sebagai manusia paradoksal itulah Si Kabayan hadir. Pada awalnya memang sebagai khazanah sastera lisan kita, namun dalam perkembangannya cerita Si Kabayan sudah mengalami berbagai transformasi. Si Kabayan sebagai teks sastera dipandang sebagai teks sastera Sunda yang paling banyak mengalami transformasi, setelah teks Lutung Kasarung.

Karena paradoksal itulah teks Si Kabayan harus dipandang sebagai sebuah ironi. Sebagai sebuah ironi Si Kabayan di tangan Godi Suwarna diperlakukan sebagai sebuah parodi. Dapat dikatakan pada, cerpen "Gual-Guil" cerita Si Kabayan, khususnya tokoh Si Kabayan diperlakukan sebagai sebuah parodi-ironi.

Makalah ini memusatkan diri pada upaya menjawab beberapa pertanyaan berikut. Pertama, mengapa terjadi pemutarbalikan mitos pada "Gual-Guil" karya Godi Suwarna? Kedua, pada tataran apakah pemutarbalikan mitos itu terjadi? Ketiga, bagaimanakah kaitan pemutarbalikan mitos pada "Gual-Guil" karya Godi Suwarna dengan kehidupan masyarakat umumnya.

Pembatasan berikut secara berturut-turut memaparkan struktur cerpen "Gual-Guil". Pada bagian berikutnya mengemukakan persoalan-persoalan pemutarbalikan mitos pada "Gual-Guil". Bagian selanjutnya dikemukakan analisis konteks sosial "Gual-Guil". Bagian terakhir berkenaan dengan kesimpulan makalah ini.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III