Di situs Astanagede, Kawali, tersimpan sejumlah artefak yang sebagian besar menggunakan batu besar sesuai bentuk alamiahnya, diletakkan pada tiga teras yang disusun sesuai kontur lahannya dengan pola memusat, yang enam di antaranya bergores prasasti beraksara dan berbahasa Sunda. Salah satu dari prasasti itu menyebut nama Prabu Raja Wastu yang oleh Ayatrohaédi (1982: 333-346) diidentifikasi sebagai Rahiyang Niskala Wastu Kancana. Beberapa pakar sejarah lain menempatkan situs ini sebagai hasil budaya tradisi Megalitik yang dipengaruhi Hindu-Buddha (Rumbi Mulia 1977; Prasetyo 1993; 1995; Saringendiyanti 1996). Namun Danasasmita (1981) menyatakan bahwa situs Astanagede Kawali merupakan pengejawantahan ajaran Sunda. Pendapat ini menghantarkan kepada kemungkinan bahwa situs Astanagede Kawali berperan sebagai pusat upacara. Namun sejauh itu pula ia belum secara rinci menjelaskannya.
Menurut pendapat Christopher Tilley (1991: 16-22) dan Ahimsa Putra (1998: 2), artefak bukanlah sekadar isyarat pantulan jiwa tetapi juga hasil perilaku atau tindakan berpola yang mengungkapkan kondisi mental dan berperan ke dalam pembentukan makna. Di mana peralihan pengalaman mental cenderung bertambah atau berkurang, apa yang nampak dari kekayaan pengalaman itu lebih miskin dibandingkan dengan pikiran atau pengalaman sesungguhnya, sehingga ekspresi yang ditampakkan suatu artefak belum berarti telah mencakup intensitas informasi peristiwa yang terjadi. Sejalan dengan pernyataan Daud Aria Tanudirjo (1994: 10) bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa bereaksi terhadap lingkungannya tetapi berpegang kepada konsep yang mendorongnya membuat sesuatu saat menginterpretasikan dunianya. lnterpretasi inilah yang selanjutnya dijadikan perangkat ide yang berisi sebagian terbesar nilai-nilai yang diterimanya sebagai warisan dari lingkungan. Itu sebabnya setiap hasil budaya suatu individu/kelompok acapkali menunjukkan karakter tersendiri sehingga setiap peristiwa hanya dapat dipahami dengan cara menempatkannya ke dalam konteks keseluruhan (teks).
Tulisan ini merupakan upaya mengungkapkan ulang situs Astanagede-Kawali dan menempatkannya ke dalam kesatuan pengalaman dengan kompleksitasnya sejauhmana ajaran Sunda diekspresikan pada sejumlah artefak-artefaknya. Dipahami melalui interpretasi gramatikal terhadap data tekstual dilanjutkan ke interpretasi psikologis sesuai pesan yang mengejawantah di dalam teksnya.