Dalam perjalanan sejarah, orang Sunda mengalami budaya politik kekuasaan dari luar berturut-turut, yaitu budaya politik kekuasaan feodalisme Mataram dan, kemudian, budaya politik kekuasaan kolonialisme Belanda. Kedua budaya politik kekuasaan itu, yang dialami orang Sunda begitu lama, khususnya budaya politik kolonialisme Belanda sampai ratusan tahun, sangat berpengaruh terhadap sifat dan perilaku budaya orang Sunda, jika tidak sampai mematikan juga jati diri Ki Sunda. Sifat dan perilaku budaya orang Sunda sekarang pada hakikatnya adalah produk pengaruh kedua budaya politik kekuasaan tersebut dan tidak mencerminkan jati diri Ki Sunda yang sesungguhnya. Orang Sunda sekarang dikenal suka mengalah, suka damai, tidak mau menentang, pandai mengabdi. Orang Belanda bilang "De sundanezen zijn goede dienaren" (orang Sunda itu abdi yang baik/penurut), itu kiranya berkat binaan/tempaan budaya politik kekuasaan feodalisme Mataram dan kolonialisme Belanda.
Jati diri Ki Sunda yang sesungguhnya ditunjukkan oleh sifat dan perilaku budaya orang Sunda di mana Sunda mandiri, bebas dari budaya politik kekuasaan lain, yaitu di masa kerajaan-kerajaan Sunda berdiri. Sikap, tutur kata dan wangsit Prabu-Prabu Sunda yang diungkapkan dalam prasasti dan carita Parahyangan serta pantun, menunjukkan pribadi jati diri Ki Sunda sesungguhnya.