Makanan tradisional seperti leupeut, kupat, wajit, angleng, dodol, atau bacang adalah jenis penganan yang sudah tidak asing bagi lidah orang Sunda. Nama-nama itu bukan saja mengingatkan pada rasanya yang sering membuat orang Sunda tergiur, tapi sekaligus pada desain kemasannya, termasuk bahan, teknik serta bentuknya. Tidak jarang jenis makanan tertentu dibedakan dari yang lainnya bukan melalui rasanya tapi melalui cara membungkus (teknik) dan bentuk bungkusannya.
Kemasan makanan tradisional _ jenis kemasan yang memanfaatkan bahan botanis (daun-daunan, misalnya) _ berfungsi bukan saja sebagai pelindung isinya dari debu atau agar tahan lama, tapi juga merupakan upaya unutk membereskan, mengatur, merapikan makanan itu agar mudah dan praktis dibawa-bawa, dipegang atau dibuka, ketika hendak disantap membantu tangan dalam melakukan tugas.
Selain itu, bahan kemasan tersebut juga memberikan aroma tertentu pada makanannya. Misalnya, peuyeum ketan yang dibungkus dengan daun pisang berbeda keharuman rasanya (aroma) dari yang dibungkus dengan daun jambu air. Pada jenis makanan tertentu, pengemasan dengan bahan botanis, di samping melakukan fungsi-fungsi tadi, juga turut membantu proses, misalnya, penjamuran pada tempe dan peragian (fermentasi) pada peuyeum ketan.
Sebagai rupa, desain kemasan juga merupakan daya pikat atau `iklan' tersendiri, suatu bujukan agar orang tergiur untuk menikmati isinya, atau, dalam konteks dagang, agar makanan itu menarik serta dibeli orang, atau laku.
Hal lain yang menarik adalah. penganan tradisional itu (isi dan kemasannya) di samping dikenal sebagai makanan penyelang dalam tradisi kebudayaan Sunda, dikenal juga sebagai pelengkap upacara-upacara tradisional tertentu (umumnya berkaitan dengan siklus kehidupan manusia). Makanan berperan juga sebagai perlambang dari suatu nilai spiritual yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang meyakininya. Sebagai contoh, dalam upacara adat menunggu kelahiran (kehamilan 9 bulan) maka kelengkapan upacara tersebut ditandai oleh jenis penganan yang disebut bubur lolos. Bubur tersebut dimasak, dibentuk serta dikemas sedemikian rupa sehingga mudah sekali disantap, tinggal diletakkan di ujung mulut maka isinya (bubur) akan meluncur (lolos) dengan mudah ke dalam mulut. Kemudahan tersebut dikaitkan dengan harapan agar si ibu yang hamil mengalami kemudahan saat melahirkan bayinya. Dan masih banyak lagi contoh lain.