KIBS I, 22—25 Agustus 2001

Etos Kerja Orang Sunda

Herman Suwardi

Etos kerja orang Indonesia pada umumnya lemah. Demikian pula etos kerja orang Sunda, yang merupakan sebagian dari Indonesia.

Etos kerja yang lemah itu ("Achievement Motivation, MeClelland; atau "Will", Schopenhaur, atau "Elan Vital", Bergson) saya sebut karsa yang lemah, dengan sifat-sifat umum sebagai berikut: (1) tak ada orientasi ke depan; (2) tak ada "growth philosophy"; (3) cepat menyerah; (4) berpaling ke akhirat; dan (5) inertia atau lamban. Kelemahkarsaan orang-orang Sunda sangat menonjol pada sifat cepat menyerah, ialah bila melakukan upaya, baru menghadapi dua kali kegagalan, terus ditinggalkan. Ucapan-ucapan yang khas adalah "teu idin Gusti" (Tuhan tak mengizinkan), dan "katurug-katutuh". Dan terlebih-lebih, ucapan ngajerit maratan langit" (menjerit menembus langit). Orang Sunda lebih suka hidup di dalam lemburnya, dengan ucapan: "bengkung ngariung, bongkok ngaronyok". Karena itu, kinerja orang-orang Sunda di bidang transmigrasi tergolong terburuk. Juga di zaman modern ini, dengan munculnya pabrik-pabrik, buruh-buruh Sunda selalu mendapat penilaian yang rendah. Selain cepat menyerah ("give-up"), mereka dikatakan kurang disiplin, melanggar perintah, cepat bosan, maka cepat meninggalkan pekerjaannya. Ucapan bahasa Sunda tentang ini adalah, "teu junun"

Apa sebabnya begitu? Kehidupan orang Sunda, erat bertaut dengan ke-islaman. Semua, minimal mayoritas orang Sunda tergolong pada "Santri" (Geertz), namun sayang sekali pemahaman mereka tentang Islam diliputi dengan kekeliruan, maka bisa disebut "kekeliruan persepsi teologis". Tentang ini dan bagaimana cara menyembuhkannya adalah isi pokok dari makalah yang akan ditulis.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III