KIBS I, 22—25 Agustus 2001

Pantun sebagai Produk Budaya Sunda Lama

Jakob Sumardjo

Berita tertua tentang keberadaan pantun, tertulis dalam buku Siksa Kandang Karesian tahun 1518. "Bila ingin tahu tentang pantun, seperti Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi; tanyalah juru pantun". Jadi, pantun telah ada pada zaman HinduSunda, dekat sebelum runtuhnya Pajajaran pada tahun 1579. Tetapi, kapan pantun mulai diciptakan di Jawa Barat pada zaman Hindunya, tidak ada beritanya. Namun, mengingat pentingnya peranan rajah dalam pembukaan pertunjukan dan penutupan pantun, maka dapat diduga adanya unsur Tantrayana dalam pantun.

Kebanyakan pantun menuturkan tentang kehidupan raja dan pangeran-pangeran kerajaan Sunda lama dalam hubungannya dengan para hyang dan dewadewa. Dengan demikian, pantun, menggambarkan alam kepercayaan dan alam pikiran masyarakat Sunda lama, dalam suatu sistem kosmologinya. Pemahaman isi cerita pantun menuntut pemahaman tentang kosmologi HinduBudhaSunda, dengan tetap memperhatikan perubahan-perubahan atasnya dalam perjalanan budaya masyarakatnya. Mengingat hal ini, maka pantun mengandung ajaran agama, moralitas dan mitos-mitos budaya Sunda. Pantun, rupanya, dimaksudkan untuk menyebarkan mitosmitos budaya kekuasaan kerajaankerajaan Sunda pada zamannya. Jadi, semacam penciptaan babad dalam budaya Jawa yang kemudian. Di samping itu, pantun juga mengajarkan, dengan cara sederhana bagi kepentingan rakyat banyak, pokokpokok kepercayaan kaum elit istana tentang agama mereka.

Pantun merupakan bagian dari seni pertunjukan, yakni berupa cerita tutur lisan di depan publiknya yang disusun dalam puisi dan prosa liris, yang kadang dinyanyikan dan kadang dituturkan, sambil diiringi musik kecapi. Aspek seni pertunjukan ini tentu mempunyai makna tersendiri yang akan mendukung keberadaan pantun sebagai produk cara berpikir masyarakat Sunda lama. Dalam tulisan ini, saya hanya akan menyinggung struktur cerita pantunnya saja.

Penggalian makna pantun dari segala seginya akan dapat memberikan sumbangan besar bagi pemahaman budaya masyarakat Sunda lama, mengingat sedikitnya sumbersumber tertulis tentang zaman HinduBudhaSunda selama ini. Zaman Hindu di Jawa Barat, yang mengalami zaman paling lama di Indonesia, ternyata amat sedikit meninggalkan artefakartefak budayanya, akibat lenyapnya kerajaankerajaan Sunda beserta masyarakat pendukungnya. Hal ini agak berbeda dengan zaman HinduJawa yang masih menyimpan artefakartefak budayanya dalam masyarakat Hindu di Bali.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III