Bagaimanakah hubungan gunung-gunung dengan budaya masyarakat Sunda? Telah kita ketahui bersama bahwa masyarakat Sunda dahulu adalah masyarakat agraris yang hidup dari pertanian. Mereka bercocok tanam sayuran dan buah-buahan dengan sistem "kebun pekarangan (home garden) sampai "kebun talun". Hal ini telah berlangsung berabad-abad sebagaimana digambarkan oleh FAO dan IIRC dalam buku panduan berjudul Resource Management for Upland Areas in South-East Asia terbit tahun 1995. Selain itu, mereka "nyawah" dari wilayah dataran sampai jauh ke perbukitan dengan sistem "sengkedan" (terasseering) seperti terjadi di beberapa wilayah di Asia Tenggara.
Bagaimanakah budaya bertani di gunung-gunung ini dipandang dari keuntungan dan kerugiannya? Secara fisik ada kemungkinan bertani dengan cara ini mengundang bahaya. Tatar Sunda ini secara geologis dihuni oleh batuan vulkanik Kuarter yang bersifat belum padat (unconsolidated) yang pada kecuraman lereng tertentu dapat mengakibatkan longsor. Untuk itu, perlu kajian geomorfologi serta litologi agar penggunaan undigeneous technology ini tidak mubazir.
Dari segi lingkungan dan tata ruang ada baiknya kita mengkaji ulang pengaturan batas daerah yang dahulu sering dilakukan dengan batas geografis guna menyederhanakan koordinasi masalah lingkungan.