Bila kita menyadari bahwa anak-anak merupakan bagian kehidupan kita dan menganggap mereka sebagai pewaris kebudayaan, maka kita harus memahami pentingnya pewarisan kebudayaan itu kepada anak-anak sebagai generasi penerus yang memiliki tugas sebagai pelestari dan pemelihara tradisi.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kian maraknya teks kompetitor semacam animasi (film kartun), yang sekarang ini sudah terbangun sebagai suatu kekuatan yang kokoh, suatu rezim yang besar dan tangguh telah menggeser tradisi yang pernah berakar pada sendi-sendi kehidupan masyarakat Sunda. Pudarnya sakralisasi dan romantisme tradisi kelisanan pada anak-anak telah membuat berbagai pihak merasa prihatin. Orang tua dituding sebagai pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai pemelihara kebudayaan, karena terlalu sibuk dengan berbagai urusan mereka sendiri. Sekolah dituding sebagai lembaga yang tidak bisa menjaga kelestarian budaya, tidak menyediakan waktu untuk kegiatan ritual dalam pemeliharaan tradisi. Maraknya komik dan science fiction, dengan tipuan-tipuan yang tidak masuk akal dituding pula telah merampas pesona tradisi kelisanan pada anak-anak. Televisi yang menayangkan berbagai hiburan merupakan media yang paling banyak menanggung hujatan dan cacian, karena dianggap telah mengalihkan perhatian anak-anak dari tradisinya. Alhasil, anak-anak tidak lagi mengenal tradisi yang pernah akrab dan menjadi andalan bagi generasi sebelumnya.
Bila tudingan-tudingan itu terus berlangsung dan terbukti kebenarannnya, dengan tanpa ada upaya untuk pelestraian tradisi, maka anak-anak akan kehilangan warisan yang berharga dan akan terjadi pula terputusnya mata rantai tradisi. Hal itu sangat disayangkan karena anak-anak tidak akan pernah memetik nilai-nilai adiluhung sebagaimana yang telah didapatkan oleh para orang tuanya, yang tidak sempat diwariskannya kembali kepada anak-anaknya.