Di antara sekian banyak kearifan tradisional Sunda yang saat ini sedang terancam keberlangsungan hidupnya adalah tradisi pembuatan kertas tradisional yang dikenal dengan nama kertas daluang.
Daluang adalah sejenis kertas yang terbuat dari kulit kayu pohon saeh (Broussonetia papyryfera Vent) yang pembuatannya dilakukan secara manual dengan cara disamak, diperam, dan dijemur di terik matahari dan dilakukan oleh masyarakat biasa dengan teknologi serta peralatan yang sangat sederhana.
Pada zamannya, keberadaan dan penggunaan kertas daluang begitu memasyarakat, khususnya untuk keperluan praktis sehari-hari di lingkungan pesantren dan kebutuhan administrasi di pemerintahan lokal. Namun, seiring dengan masuknya kertas pabrik dari Eropa, daluang dianggap tidak layak, baik secara praktis maupun ekonomis.
Akibat dari hal tersebut, daluang berikut dengan segala macam aspek pendukungnya menjadi terancam punah; mulai dari nyaris punahnya keberadaan pohon saeh di Tatar Sunda (bahkan di seluruh Nusantara), tidak terwariskannya sistem pengetahuan dan teknologi tradisional, hilangnya sikap menghargai potensi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati, bahkan termasuk memudarnya rasa memiliki atas salah satu aspek budaya yang seharusnya menjadi salah satu kebanggaan etnis Sunda.