Pamijahan atau Safar al-Wadi selama ini dikenal sebagai pusat ziarah terbesar di Jawa Barat setelah Banten dan Cirebon. Kepopuleran Pamijahan di kalangan peziarah dipengaruhi oleh keharuman nama Syekh Abd al-Muhyi yang dikubur di tempat itu. Sampai saat ini, menurut data yang saya dapat dari pakuncenan, kurang lebih 1000 peziarah datang tiap hari. Oleh karena itu, tidak mengherankan, kalau Pamijahan tumbuh menjadi desa yang cukup dinamis sebagai akibat dari pelayanan mereka terhadap para peziarah.
Hanya sayang, banyak kalangan yang tidak mengetahui peranan amat penting Syekh Abd al-Muhyi pada zamannya. Penelitian filologis yang saya lakukan terhadap sejumlah naskah di Perpustakaan Leiden University dan juga di Perpustakaan Australian National University menunjukkan bahwa Syekh Abd al-Muhyi adalah tokoh yang sangat penting dalam penyebaran orde tarekat Shattariyah di Jawa pada abad ke-17. Sejumlah keluarga sultan dari Surakarta, ulama dari Jawa Timur dari Bandung, bahkan dari Trengganu mendapatkan silsilah Shattariyah-nya dari garis Syekh Abd al-Muhyi. Selain itu, sejumlah dokumen Belanda pun menyebut-nyebut Syekh Abd al-Muhyi sebagai tokoh "pergerakan" yang mendukung para pemberontak. Pemberontak itu mundur dari daerah Banten yang dipimpin oleh Sufi dan Ulama Besar, Syekh Yusuf. Syekh Yusuf sendiri, dalam salah satu naskahnya, menyebut Syekh Abd al-Muhyi sebagai sahabatnya. Dengan demikian, Syekh Abd al-Muhyi bukan hanya sebagai tokoh neosufisme, tetapi juga seorang yang aktif menentang Belanda. Hal itu dibuktikan dengan dukungannya kepada salah seorang Bupati Tasik yang dianggap oleh Pemerintah Belanda sebagai `mbalelo'.
Dalam makalah ini, saya ingin merekonstruksi penyebaran tarekat Shattariyah, khususnya yang melalui garis silsilah Syekh Abd al-Muhyi. Rekonstruksi itu dilakukan dengan mengkaji sejumlah naskah Shattariyah yang representatif dan jelas-jelas menyebutkan Syekh Abdul al-Muhyi. Dari rekonstruksi tersebut, kita bisa melihat betapa pentingnya Pamijahan (Safar al-Wadi) dalam konteks sejarah Sufi di Indonesia. Selain itu, saya pun mencoba membahas dinamika tarekat itu dalam konteks masyarakat Pamijahan sendiri. Pembahasan ini didasarkan pada data yang saya dapatkan selama melakukan kajian antropologis selama setahun di Kampung Pamijahan. Apa yang saya bahas merupakan bagian dan tesis disertasi yang tengah saya rampungkan di Southeast Asian Studies, ANU, Canberra.