Bahasa alami yang ada di dunia ini dan yang melaksanakan fungsi utamanya sebagai alat komunikasi selalu menunjukkan kedinamisan. Eksistensi sebuah sistem bahasa dan fungsinya adalah ibarat dua sisi mata uang logam yang tidak terpisahkan. Eksistensi ini terdapat pada fungsinya. Untuk mewujudkan fungsinya, suatu sistem bahasa harus eksis. Oleh karena itulah, sistem bahasa selalu dinamis untuk mempertahankan eksistensinya demi menjalankan fungsinya. Untuk tetap dapat menjalankan fungsinya, sistem bahasa dapat mengalami pembaruan, apakah sistem strukturnya atau leksikonnya. Apakah pembaruan itu muncul akibat faktor internal keotonoman sistemnya atau faktor eksternal akibat pengaruh sistem lain. Bahasa alami hidup dalam kedinamisan.
Pembaruan sistem bahasa terkait dengan pemertahanan sistem tersebut. Suatu sistem bahasa mengadakan pembaruan dengan tujuan dapat tetap melaksanakan fungsinya sebagaimana dikemukakan di atas. Walaupun sistem bahasa dapat mengalami pembaruan, bukan berarti semua subsistem yang membentuknya berpeluang sama untuk berubah. Subsistem leksikon cenderung lebih sering dan mudah mengalami pembaruan dibandingkan dengan subsistem struktur. Dalam waktu puluhan tahun, struktur sebuah sistem bahasa bisa tetap, tetapi subsistem leksikon bisa mengalami perubahan dengan munculnya kata baru akibat inovasi dan tampilnya makna baru pada kata yang sudah ada. Pembaruan bahasa ini sering juga dikendalikan oleh sebuah lembaga dengan harapan bahwa inovasi pada sisi-sisi tertentu bisa tampil sesuai dengan kaidah bahasa di samping pembaruan yang bersifat alami. Dalam hal ini, pembaruan bahasa terkait dengan pembakuan bahasa yang bersangkutan.
Bahasa Sunda sebagai bahasa masyarakat etnik Sunda merupakan salah satu bahasa dengan jumlah penutur besar di Indonesia di samping bahasa Jawa. Bahasa ini digunakan hampir di seluruh Jawa Barat dan sebagian kecil di Jawa Tengah. Sebagaimana bahasa alami lainnya, bahasa ini memiliki berbagai variasi atau dialek, baik variasi geografis, sosial, maupun temporal. Bahasa ini pun memiliki ragam lisan dan tulis. Tradisi tulis bahasa ini dapat diamati pada pemilikan aksara Sunda. Beragam register tampak pula pada tradisi tulis ini, seperti yang terdapat dalam karya sastera ataupun nonsastera, buku bacaan sekolah, surat kabar, ataupun majalah, walaupun, akhir-akhir ini, keberadaannya `memprihatinkan'. Adanya Bahasa ini, sebagaimana bahasa Jawa, memiliki undak-usuk `tingkat tutur' . Tingkat tutur ini sering menjadikan bahasa Sunda sebagai objek yang berlebihan di kalangan para peneliti Belanda. Hal ini dapat dimaklumi karena tingkat tutur sebagai sesuatu yang khas dibandingkan dengan bahasa Eropa.
Adanya variasi dalam bahasa Sunda dapat diamati pada variasi atau dialek geografis, yakni variasi bahasa yang terdapat di daerah tertentu dalam suatu wilayah bahasa. Walaupun beberapa ahli menunjukkan adanya perbedaan dalam kuantitas variasi geografis ini, pada dasarnya mereka sepakat adanya variasi geografis tertentu di daerah perbatasan, baik di daerah perbatasan dengan wilayah bahasa Jawa maupun wilayah bahasa Melayu. Oleh karena itu, bahasa Sunda dialek geografis Bogor dan Cirebon sering disebut-sebut karena dialek tersebut terdapat di daerah perbatasan yang menunjukkan perbedaan dengan dialek geografis Priangan, yang berpusat di Bandung dan di sini pula terdapatnya bahasa Sunda baku atau basa Sunda lulugu.
Kontak bahasa Sunda dengan bahasa lain akibat adanya sejarah sosial dan politik dalam masyarakat Sunda terdokumentasi dalam dialek geografisnya. Peminjaman kosakata bahasa serumpun atau bahasa yang tidak serumpun dalam dialek tersebut mencerminkan hal ini. Tidaklah mengherankan jika dalam dialek bahasa Sunda terdapat kata kebo `kerbau', ula `ular', dengkul `lutut', endi `mana', sikut `sikut', cucu `cucu', bendo `golok', tesi `sendok', dan engkong `kakek'. Fenomena ini merupakan inovasi eksternal. Jika kelak ada kamus dialek atau kamus etimologi dalam bahasa Sunda, fenomena ini mungkin akan banyak diungkapkan. Makalah ini merupakan tulisan sederhana untuk menyingkapkan hal tersebut.
Data yang disajikan dalam makalah ini diperoleh dari beberapa hasil penelitian para dialektolog dan hasil pengamatan penulis sendiri di lapangan. Tidak semua data dialek Sunda diambil, kemudian dibahas, karena tulisan ini pun tidak dimaksudkan untuk itu. Data yang dideskripsikan dan disajikan dalam tulisan ortografis ini hanya merupakan percontoh (sampel) dari beberapa kosakata dan beberapa dialek. Deskripsi data menggunakan pendekatan sinkronis dan diakronis.
Penetapan kosakata tertentu merupakan serapan dari bahasa Melayu, Jawa, atau yang lainnya didasarkan pada penafsiran penulis sendiri. Penafsiran ini menggunakan parameter perbandingan antara kosakata dialek Sunda dengan kosakata yang digunakan dalam bahasa Melayu, Jawa, atau bahasa lain kecuali data penelitian Nothofer, penelitinya sendiri sudah menafsirkan bahasa asal serapan dialek Sunda tersebut. Pendeskripsian data menggunakan pendekatan dialektologis (geolinguistis).