Rektor Universitas BSI Bandung
Wilayah Sunda (Jabar dan Banten) secara fisiografis terbagi menjadi zona Banten, zona pedataran alluvial Jakarta, zona Bogor, zona Bandung, dan zona Pegunungan Selatan. Setiap zona memiliki karakteristik fisik tertentu, sehingga memberikan peluang dan pengaruh yang berbeda terhadap aktivitas manusia yang ada di atasnya. Karena itu, kultur Sunda di setiap zona ini pun memiliki kekhususan. Atas dasar itu, maka dalam proses perkembangan dan pembangunannya harus dipertimbangkan berbagai karakteristik budaya yang ada.
Dari sudut pandang pelestarian budaya, perbedaan adalah berkah.Oleh karena itu, harus dihindari terjadinya konflik antara subkultur Sunda demi eksisnya budaya tersebut.Pelestarian mengandung makna proteksi, modifikasi dan inovasi.Hal terpenting adalah memelihara benang merah dalam setiap gerak langkah dan pengembangan budayanya.
Dalam konteks geografi budaya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan alam di ruang permukaan bumi, maka setiap ciri khas budaya harus dipelihara dan dimungkinkan untuk terus hidup. Paling tidak melalui upaya pemeliharaan dialek bahasa, seni, dan lingkungan hidupnya. Tiga hal ini yang akan menentukan eksis tidaknya budaya Sunda dengan segala macam pluralistiknya.