KIBS I, 22—25 Agustus 2001

The Relation Between Inner and Outer Voices in Sundanese Popular Music in the Era Globalization

Wim van Zanten

Seni pertunjukan merupakan suatu sistem komunikasi dengan aspek bukan-bahasa (non-verbal), yaitu musik, gerakan, tari, pakaian, dan lain-lain. Cara komunikasi ini ditentukan oleh konteks budaya. Jelas, seni pertunjukan Sunda juga dipengaruhi oleh politik budaya Indonesia dan internasional.

Hari-hari ini kita seringkali berjalan dari satu tempat ke tempat lain secara fisik atau melalui media (buku, koran, radio, televisi, internet, dan lain-lain.), lebih sering dari dulu dan lebih jauh. Cultural travel and migrancy (Jurriëns 2001) menyebabkan simbol-simbol karuhun diberi makna baru. Jadi, tidak begitu sederhana untuk menentukan apa itu budaya Sunda, karena kehidupan kita terletak dalam konteks budaya berganda (multi-cultural). Walaupun kebudayaan Sunda mengelompokkan orang Sunda, namun aspek-aspek budaya Sunda tidak sesuatu yang homogen, yang bermakna sama untuk setiap orang Sunda. Sebenarnya, kerumitan itu telah digambarkan dalam guguritan Laut Kidul, yang dicetak pada tahun 1921: "Wantu-wantu sindir mah sindir. Wantu-wantu basa mah sabasa. Ngan beda nu kapiraos." Dan juga, "Pada-pada boga pamanggih. Pada boga carita. Pada boga galur. Gok amprok jeung sasama." (Volksalmanak Soenda 1921:240-6, bait 22 dan 23).

Dalam presentasi, saya ingin membicarakan khususnya mengenai beberapa aspek karawitan Sunda, termasuk karawitan Baduy, dan pop Sunda. Saya akan menganalisa gejala-gejala hari ini dalam kerangka teori mengenai hubungan antara yang lahir (suara-suara fisik: music-as-sound) dan yang batin (aspek sosial, karakter orang). Karawitan merupakan suara lahir dari jiwa manusia. Apakah pengaruh globalisasi pada hubungan lahir-batin ini?

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III