Seni pertunjukan merupakan suatu sistem komunikasi dengan aspek bukan-bahasa (non-verbal), yaitu musik, gerakan, tari, pakaian, dan lain-lain. Cara komunikasi ini ditentukan oleh konteks budaya. Jelas, seni pertunjukan Sunda juga dipengaruhi oleh politik budaya Indonesia dan internasional.
Hari-hari ini kita seringkali berjalan dari satu tempat ke tempat lain secara fisik atau melalui media (buku, koran, radio, televisi, internet, dan lain-lain.), lebih sering dari dulu dan lebih jauh. Cultural travel and migrancy (Jurriëns 2001) menyebabkan simbol-simbol karuhun diberi makna baru. Jadi, tidak begitu sederhana untuk menentukan apa itu budaya Sunda, karena kehidupan kita terletak dalam konteks budaya berganda (multi-cultural). Walaupun kebudayaan Sunda mengelompokkan orang Sunda, namun aspek-aspek budaya Sunda tidak sesuatu yang homogen, yang bermakna sama untuk setiap orang Sunda. Sebenarnya, kerumitan itu telah digambarkan dalam guguritan Laut Kidul, yang dicetak pada tahun 1921: "Wantu-wantu sindir mah sindir. Wantu-wantu basa mah sabasa. Ngan beda nu kapiraos." Dan juga, "Pada-pada boga pamanggih. Pada boga carita. Pada boga galur. Gok amprok jeung sasama." (Volksalmanak Soenda 1921:240-6, bait 22 dan 23).
Dalam presentasi, saya ingin membicarakan khususnya mengenai beberapa aspek karawitan Sunda, termasuk karawitan Baduy, dan pop Sunda. Saya akan menganalisa gejala-gejala hari ini dalam kerangka teori mengenai hubungan antara yang lahir (suara-suara fisik: music-as-sound) dan yang batin (aspek sosial, karakter orang). Karawitan merupakan suara lahir dari jiwa manusia. Apakah pengaruh globalisasi pada hubungan lahir-batin ini?