Téaterawan Sunda
Dewasa ini peradaban bangsa-bangsa seakan-akan hanya dihiasi oleh préstasi-préstasi kekerasan dan keserakahan para pemimpin, préstasi-préstasi yang beradab seakan-akan menjadi “budaya tersembunyi” (hidden culture) dan tak banyak diketahui orang. Termasuk wayang, terutama di negeri sendiri. Wayang adalah préstasi peradaban bangsa kita yang seharusnya membanggakan. Sebagaimana dirintis oleh dinasti Sunarya yang melanglang buana ke mancanegara. Bagi kita sebagai “pewaris aktif” yang melakukan prosés pewarisan dengan jalan membaca tradisi dengan cara baru. Tanpa tradisi kita sendiri, kita tak akan memiliki kréasi yang berakar kuat.
Pengalaman sebagai seorang téaterawan Sunda yang mencoba melakukan révitalisasi terhadap wayang (sebagai hasil préstasi peradaban yang sudah dihargai UNESCO) menjadi titik pamiangan (starting point) untuk mencoba menyampaikannya di dalam forum kebudayaan seperti KIBS ke 2 ini.
Wayang KaKuFi (singkatan dari Kayu Kulit Fiber) merupakan wayang kontemporér yang mengawinkan beberapa unsur kekuatan wayang secara bahan, yakni: Kayu (wayang golék), Kulit (wayang kulit), dan Fiber (wayang plastik kaca). Dengan menggunakan téknologi komputer dan musik minimalis dari barang bekas (kréasi Dodong Kodir). Pertama kali mendapat tawaran ke Yunani (satu pemilik peradaban yang tinggi di masa lalu), tawaran tersebut tidak mungkin ditolak, karena merupakan pengalaman yang berharga dan jarang terjadi. Sebuah festival sastra dan seni pertunjukan (literatur and performing art festival) yang berlangsung di Pulau Kreta, disanggupi dengan menciptakan pertunjukan wayang kontémporér yang diberi nama KaKuFi. Wayang KaKuFi dimainkan oleh empat orang saja. Karena keterbatasan panitia dalam menanggung peserta selama pelaksanaan. Selama di Yunani kami mendapat réspons yang mengejutkan, ternyata wayang KaKuFi tidak menjadi asing di tempat yang asing, bahkan menjadi “pesona”, padahal kami hanya membawakan dua lakon péndék: “Sudamala” dan “Dewa Ruci”. Dua lakon wayang kuno yang jarang dipertunjukan di negeri sendiri. Terjadinya komunikasi antarbangsa, yang sering kita kagumi dari téater Yunani dengan tragédinya, ternyata meréka juga mengagumi tragédi yang kita miliki. Sejak itu Kakufi berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain, baik di Éropa maupun di Asia.