KIBS I, 22—25 Agustus 2001

Sunda Wiwitan: Orang Baduy dari Pancer Bumi, Kanekes

Yudistira K. Garna

Orang Baduy yang berbicara dalam dialek Sunda Baduy yang berjumlah kira-kira 7.500 orang (1999) adalah penduduk yang tinggal di seluruh wilayah Desa Kanekes, Leuwidamar, Banten Selatan. Mereka rnenganggap sebagai Sunda Wiwitan, urang girang, atau kolot seperti yang biasa disebut oleh orang Sunda lainnya. Pedoman bagi tingkah laku dan tindakan serta kehidupan sehari-hari ialah pikukuh yang bersumber dari karuhun, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi. Pikukuh itu menentukan bahwa tempat bermukim mereka perlu dipelihara karena menjadi pancer bumi, atau inti jagat, yaitu pusat bumi yang membuat sejahtera kehidupan dunia. Kelompok masyarakat Sunda ini berdasarkan sistem budaya dan struktur sosialnya merupakan kelompok masyarakat yang masih menja-lankan tatanan kehidupan seperti masyarakat Sunda Lama, dari masa jauh sebeIum pengaruh Hindu masuk ke Jawa Barat.

Struktur sosial orang Baduy didasarkan pada sistem kekerabatan, yang membagi dalam dua paro masyarakat, Kajeroan dan Panamping. Kungkurungan Tangtu Telu Jaro Tujuh menunjukkan bahwa menurut struktur sosial kehidupan warga masyarakat Baduy itu pada hakikatnya terlingkup oleh tiga bagian kejeroan atau tangtu teIu, dan jaro tujuh yang melaksanakannya. Struktur sosial itu juga menjadi landasan pokok bagi mekanisme pemerintahan adat menurut pikukuh Baduy. Karena itu orang Baduy mengangkat jaro pamarentah sebagai pelaksana kepala desa menurut versi dan untuk berhubungan dengan pemerintahan formal. Keadaan itu memberi peluang bagi kelangsungan struktur sosial dan sistem pemerintahan adat Baduy serta kepercayaan Sunda Wiwitan sejak keberadaan orang Baduy diketahui oleh pemerintah jajahan Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan sekarang.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III