Psikolog Peneliti Psikologi Ulayat
Peter F Drucker mendefinisikan entreupeuneur sebagai seseorang yang mampu mengubah hal yang dipandang orang lain sebagai hal yg tidak produktif dan tidak menghasilkan menjadi produktif dan menghasilkan.
Amatan di daerah kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak terhadap perilaku ekonomi masyarakat Baduy di bandingkan masyarakat di luar Baduy sangat mengagetkan. Masyarakat Baduy dalam perilaku kesehariannya nyata-nyata menunjukkan tindakan yg menampilkan kecerdasan keuangan dan wirausaha dibandingkan orang di luar Baduy.
Perbedaan yang nyata adalah dalam sikap yang dimiliki orang Baduy adalahterhadap makna pertukaran atas nilai tambah yang dimiliki. Mereka memiliki kesadaran atas nilai tambah yang mereka miliki, dan mereka pun memiliki kesediaan untuk melakukan pertukaran. Karena itu tidak mengherankan bila di kantor cabang BRI kecamatan leuwidamar, para nasabah yang menabung adalah orang Baduy.
Menjadi pertanyaan. Siapa yang mengajarkan orang Baduy menjadi cerdas keuangan dan menjadi bermental pebisnis, sementara mereka tidak sekolah?
Temuan dari lapangan, mereka memperoleh wawasan menjadi cerdas keuangan dan bermental wirausaha dari filosofi Baduy, antara lain “heula neundeun batan miceun”, tafsiran mereka atas filosofi Lumbung, juga petitih dan “buyut” (tabu) yg masih hidup dalam alam pikir mereka.
Temuan ini sekaligus menyangkal pandangan bahwa warisan budaya Sunda Buhun hanyalah berupa filosofi hidup yang sudah mati. Nyata masih ada warisan yang masih lestari, berupa sikap hidup yang membuat orang Baduy memiliki ketahanan ekonomi termasuk ketahanan pangan. Sikap hidup ini oleh orang Baduy justru mampu diwujudkan dalam bentuk aksi.
Temuan penelitian ini sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan, “Apa yang harus dilakukan oleh keluarga Sunda sekarang sehingga menjadi keluarga yang cerdas keuangan dan bersikap batin pengusaha”. Dengan sikap batin ini, Nanjung di juritan, Nanjeur di buana, niscaya menjadi bagian dari yang diindrai “manusa” Sunda kiwari.