Wakil Réktor IAILM Suryalaya Tasikmalaya
Beberapa tarékat yang berkembang di Indonesia awal abad ke-16 sampai abad ke-19 antara lain Qadiriyah, Syatariyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Samaniyah, Alawiyah, Hadadiyah. Awal abad ke-10 masuk tarekat Tijaniyah yang di bawa para jamaah haji Indonesia. Sementara tarékat Qadiriyah Naqsyabandiyah muncul tahun 1850, dikembangkan di Pesantrén Suryalaya. Dalam penelitian Zamaksyari Dhofier, pesantrén Suryalaya merupakan bagian dari lima pondok pesantrén di Jawa, yang menjadi basis penyebaran tarékat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Kelima pesantrén itu adalah Pesantrén Pagentongan di Bogor, Pesantrén Suryalaya di Tasikmalaya (keduanya di Jawa Barat), Pesantrén Mranggen di Demak (Jawa Tengah), Pesantrén Rejoso serta Tebuireng di Jombang (Jawa Timur).
Selain pemahamannya yang inklusif, Pesantrén Suryalaya menjadikan kosmologi budaya Sunda sebagai paradigma tarekatnya. Bukan hanya simbol kiainya yang sama sekali tidak mencitrakan ‘manusia Arab’ juga tubuh dengan segala interaksi semiotika kesundaan. Nalar kiainya seutuhnya menyimpulkan manusia Sunda yang telah ‘sirna di rasa’. “Tanbih” sebagai manifésto tarékat dengan sangat jelas mencerminkan citra alam Parahiangan dengan segala métafora yang diambilnya. Serupa “kudu logor dina liang jarum ulah sereg di buana di bauna”, “ulah medal sila mun ka panah”, “ulah rek kajongjonan ngeunah dewek henteu lian “, “entong mariksa murid batur,” dan sebagainya.
Abah Anom sangat concern terhadap pengembangan seni budaya. Pencak silat, pawai natura, dan atau perhatian kesundaannya yang sangat besar sebagai pengaruh dari orang tuanya Abah Sepuh yang banyak menulis dangding dan guguritan seperti Layar Putri, Kunosari, Panambih Lembur Singkur, Gelenyu, Téjamantri, Salaka Domas, Panambih Saropangan, Mang-Mangu, Goyong, Panambih Sukanagara, Dangdanggula, Rumangsang Degung, Rakitan Degung, Tepiswiring, Bayubud, Budaya, Malihwarni, Kapaksi, gaya, Mangari, Kentar Ajun, Kentar Miring, Pancaniti, pager Ageung, Pagunungan, Kentar Cisaat, Pangesahan, Kulu-Kulu Sétra, Adu Manis, Katalimbeng, Ditilar, Pangrungrum, Lumengis, Bogoh Teu Sapikir, Sumambat, Sungkawa, Kinanti kaum, Sumolondo dan Langendria.
Di titik inilah tarékat di Suryalaya memerankan gerak dialéktika: bagaimana Islam yang notabéné berasal dari Arab dapat berdialog dengan tradisi kesundaan sehingga nampak pertautan kental antara nilai budaya dengan nilai keagamaan. Semacam réligiositas yang sama sekali tidak mengabaikan kebudayaan. Réligiositas menyatu dengan kultur lokal karena satu sama lain pada lével spiritual menjadi tidak ada jarak yang membédakan. Kedua-duanya membawa pesan kearifan abadi (perenial).