KIBS II, 19—22 Desember 2011

Kawasan Bentang Alam Kars di Tatar Sunda

Budi Brahmantyo

Prodi Teknis Geologi, KK Geologi Terapan

Fak. Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB

Bentang alam kars adalah suatu bentang alam yang dicirikan oleh bentukan-bentukan unik yang terutama berkembang pada batuan yang mudah terlarut, yaitu umumnya batuan karbonat (batugamping). Prosés pelarutan (karstifikasi) yang terjadi memberikan dua karakteristik morfologi yang menarik, yaitu bentukan alam di permukaan (éksokars) berupa bukit-bukit dan lembah-lembah yang khas, dan di bawah permukaan (éndokars) berupa gua, sungai bawah tanah dan ornamén-ornamén gua (spéléotém) yang berane­karagam. Di Jawa Barat, bentang alam kars tersebar di beberapa wilayah, yaitu yang terluas di Kalipucang-Pangandaran-Cijulang (Ciamis Selatan), Tasikmalaya Selatan yang terkenal dengan Gua Pamijahannya, Suradé Jampang Kulon di Sukabumi Selatan yang tidak begitu berkembang, Jampang Tengah (Sagaranten – Nyalin­dung) yang terkenal dengan adanya Gua Buniayu, Citatah-Rajamandala yang terkenal dengan situs arkélogis Gua Pawon dan aktifitas galian batukapur, Cibi­nong-Citeureup di Kabupaten Bogor yang telah teréksploitasi untuk industri semén; serta sebaran-sebaran kecil di Gunung Walat hingga Palabuhanratu, Suka­bumi, Ciampéa-Leuwiliang di Kabupaten Bogor Barat, Pangkalan di Kabupatén Karawang, dan sebaran yang terbatas di Kabupaten Bekasi serta di Palimanan, Kabupatén Cirebon.

Bentang alam kars yang terutama dicirikan oléh terdapatnya gua, menjadi penting dalam kemanusiaan. Selain gua dapat menjadi jalur sungai bawah tanah, gua juga menjadi rumah bagi beberapa spésiés yang memiliki peran penting di dalam ékosistem, misalnya lalay (kelelawar kecil), walét, atau fauna-fauna gua lain. Selain itu, gua di jaman prasejarah menjadi situs penting untuk penguburan, tempat berlindung, atau tempat sakral. Hal itu telah terbuktikan dengan temuan kerangka utuh Manusia Prasejarah di Gua Pawon yang diperkirakan hidup 5600 – 9500 tahun yang lalu. Di sisi lain, kawasan kars dengan batugampingnya menjadi komoditas utama dalam industri semén, kapur tohor, dan tepung karbonat. Akibatnya konflik lingkungan antara éksploitasi dan kelestarian kawasan kars terjadi di banyak tempat, tidak terkecuali di Jawa Barat. Keluarnya Peraturan Pemerintah No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Na­sio­nal yang di antaranya menyatakan kawasan bentang alam unik yang memiliki bentang alam kars merupakan kawasan lindung nasional, menjadi dilé­matis karena bagaimanapun juga kita masih memerlukan semén untuk pembangunan. Solusi yang paling baik adalah menentukan suatu zonasi, wilayah kars mana yang harus dilindungi, mana yang boléh diéksploitasi.

 

Karst landscape is a landscape that characterized by the unique formations are particularly by dissolved rock, that is generally carbonate rocks (limestone). The process of dissolution (karstification) that occurs gives two interesting morphological characteristics, namely the natural formations on the surface (exokarst) in the form of typical hills and valleys, and below the surface (endokarst) such as caves, underground rivers and cave ornaments (speleotem). In West Java, karst landscapes scattered in several areas, namely the largest in Cijulang-Kalipucang-Pangandaran (South Ciamis), South Tasikmalaya where famous by Pamijahan Cave, a less developed karst area of Surade Jampang Kulon in South Sukabumi, Jampang Tengah (Sagaranten - Nyalindung) which famous for its existence of Buniayu Cave, Citatah-Rajamandala which famous by its archaeological site of Pawon Cave and its uncontrolled quarry activities, Cibinong-Citeureup in Bogory which has been exploited for the cement industry; and small-distribution in Gunung Walat to Palabuhanratu, Sukabumi; Ciampea-Leuwiliang in West Bogor, Pangkalan in Karawang, and limited distribution in Bekasi as well as in Palimanan, Cirebon.

Karst landscape is particularly characterized by the presence of the cave, and it becomes essential in humanity. In addition to the cave that can be a path of underground rivers, caves are also home to several species that have an important role in the ecosystem, for example lalay (small bats), swallow, or other cave fauna. In addition, caves in prehistory become an important site for the burial, shelter, or a sacred place. It has been proven by the findings of the intact skeleton of  Prehistoric Man in Pawon Cave that expected has an age of 5600 - 9500 years ago. On the other hand, as areas with limestone, karst area became a major commodity in the cement industry, lime industry, and calcium carbonate powder. As a result, environmental conflict between exploitation and preservation has been occurs in many places, not least in West Java. The issue of Government Regulation No. 26/2008 on the National Spatial Planning states that such a landscape area that has a unique karst landscape is a national protected area. It is a dilemma because after all we still need cement for construction. The best solution is to establish a zoning, determining where karst region which must be protected is, and where may be exploited is.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III