Konsultan dan Praktisi Agroindustri
Populasi Urang Sunda (US) akhir tahun 2011 ini diprédiksi sudah meléwati angka 35 juta jiwa. US menghuni daratan Tatar Sunda yang luasnya 3.709.528,44 héktar. Kurang dari setengah persén US merantau keluar daérah. Secara umum, piramida penduduk US didominasi angkatan kerja produktif. Sementara struktur US usia muda ‘tersedia’ dalam jumlah besar di bawahnya, mengisyaratkan ketersediaan tenaga kerja secara berkesinambungan di masa depan.
Ketersediaan tenaga kerja produktif inilah antara lain yang menjadi penggerak industri barang dan jasa di berbagai kota besar Tatar Sunda. Sudah lama ditengarai, séktor agro tidak lagi menarik minat angkatan kerja muda. Sementara keberadaan lahan-lahan pertanian (bahkan sawah beririgasi sekalipun) tidak bisa bertahan melawan para urban-planner.
Tatar Sunda juga memiliki sisi yang belum tergarap secara maksimal sampai sekarang. Kawasan tersebut terbanyak berada di bagian selatan Jawa Barat, membentang dari pesisir hingga pegunungan, mulai dari Cisolok di bagian Barat hingga ke Pangandaran di sisi Timur. Dilihat dari berbagai aspék, poténsi utama kawasan ini adalah agroindustri. Sama halnya seperti di industri barang dan jasa, keberadaan beberapa perusahaan besar di kawasan ini baru sekadar menyediakan lapangan kerja kasar bagi masyarakat setempat, belum menyentuh aspek pemberdayaan.
Berkaitan dengan aspék pemberdayaan ini, US di mana pun berada, tidak bisa lagi terus menunggu perubahan dari luar. Sudah sepantasnya US bangkit dengan kekuatan sendiri. Pengalaman Malaysia yang mencanangkan Felda setahun sebelum merdeka, mungkin bisa dijadikan contoh, karena telah berhasil mengentaskan negeri-negeri di luar semenanjung. Meskipun di Jawa Barat kontribusi PDRB séktor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan hanya 11,97%, optimalisasi séktor ini penting, bukan karena keberadaannya terutama di hulu-hulu DAS yang perlu dilindungi, tetapi juga karena poténsi kontribusinya terhadap pemerataan pertumbuhan kawasan.
Ulasan mengenai poténsi agroindustri di Tatar Sunda disajikan dalam bentuk tabulasi. Kajian berdasarkan pengamatan lapangan ini lebih menitikberatkan pada aspék-aspék nonteknis yang selama ini menjadi kendala bagi pertumbuhan kawasan yang memiliki poténsi pengembangan agroindustri.