KIBS II, 19—22 Desember 2011

Agroindustri di Tatar Sunda: Tantangan dan Peluang Meningkatkan Perekonomian Urang Sunda

Dadang Mohammad

Konsultan dan Praktisi Agroindustri

Populasi Urang Sunda (US) akhir tahun 2011 ini diprédiksi sudah meléwati angka 35 juta jiwa. US menghuni daratan Tatar Sunda yang luasnya 3.709.528,44 héktar. Kurang dari setengah persén US merantau keluar daérah. Secara umum, piramida penduduk US didominasi angkatan kerja produktif. Sementara struktur US usia muda ‘tersedia’ dalam jum­lah besar di bawahnya, mengisyaratkan keterse­di­aan tenaga kerja secara berkesinambungan di masa depan.

Ketersediaan tenaga kerja produktif inilah antara lain yang menjadi penggerak industri barang dan jasa di berbagai kota besar Tatar Sunda. Sudah lama ditengarai, séktor agro tidak lagi menarik minat angkatan kerja muda. Sementara keberadaan lahan-lahan pertanian (bahkan sawah beririgasi sekalipun) tidak bisa bertahan melawan para urban-planner.

Tatar Sunda juga memiliki sisi yang belum tergarap secara maksimal sampai sekarang. Kawasan tersebut terbanyak berada di bagian selatan Jawa Barat, membentang dari pesisir hingga pegunungan, mulai  dari Cisolok di bagian Barat hingga ke Pangan­daran di sisi Timur. Dilihat dari berbagai aspék, po­ténsi utama kawasan ini adalah agroin­dus­tri. Sama halnya seperti di industri barang dan jasa, kebe­radaan beberapa perusahaan besar di ka­wasan ini baru sekadar menyediakan lapangan kerja kasar bagi ma­sya­rakat setempat, belum menyentuh aspek pember­dayaan.

Berkaitan dengan aspék pemberdayaan ini, US di mana pun berada, tidak bisa lagi terus menunggu perubahan dari luar. Sudah sepantasnya US bangkit dengan kekuatan sendiri. Pengalaman Malaysia yang mencanangkan Felda setahun sebelum mer­deka, mungkin bisa dijadikan contoh, karena telah berhasil mengentaskan negeri-negeri di luar semenanjung. Meskipun di Jawa Barat kontribusi PDRB séktor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan hanya 11,97%, optimalisasi séktor ini penting, bukan karena keberadaannya terutama di hulu-hulu DAS yang perlu dilindungi, tetapi juga karena poténsi kontri­businya terhadap pemerataan pertumbuhan kawasan.

Ulasan mengenai poténsi agroindustri di Tatar Sunda disajikan dalam bentuk tabulasi.  Kajian ber­dasarkan pengamatan lapangan ini lebih meni­tikberatkan pada aspék-aspék nonteknis yang selama ini menjadi kendala bagi pertumbuhan kawasan yang memiliki poténsi pengembangan agroindustri.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III