KIBS II, 19—22 Desember 2011

Gempa di Tatar Sunda: Potensi Bencana dan Antisipasinya

Danny Hilman Natawidjaja

Lab Earth – Puslit Geoteknologi  LIPI,

Program Pasca Sarjana Gempa (GREAT) ITB

Jawa Barat tidak luput dari ancaman gempa. Potensi gempa yang tinggi karena wilayah ini dekat dengan zona penunjaman Lempeng Hindia-Australia terhadap Lempeng Asia tenggara.  Batas Lempeng ini dicirikan oleh palung laut dalam yang memanjang mulai dari Laut Andaman kebarat Sumatra kemudian menerus antar Lempeng menyebabkan terjadinya gempa di banyak patahan aktif karena dari waktu ke waktu terus menga­kumulasi energi regangan bumi dan sewaktu waktu harus melepaskannya sebagai gempa-gempa. 

Patahan-patahan ini tersebar di wilayah laut dan darat. Patahan di wilayah laut salah satunya adalah yang melepaskan gempa tahun 2006 yang disertai tsunami besar di wilayah Pangandaran. Di daratan zona patahan gempa yang sudah cukup dikenal adalah Patahan Ci­man­diri dan Patahan Lembang. Patahan Cimandiri ber­arah barat-timur memotong Pelabuhan Ratu terus ke Ti­mur ke arah Sukabumi-Cianjur kemudian ke Pada­la­rang. Patahan Lembang membentang barat –timur mulai dari wilayah Cimahi ke arah Lembang terus ke Maribaya. Selain dua itu masih banyak zonapatahan yang belum dikenal bahkan belum diketahui, misalnya adalah Patahan Baribis yang berarah baratlaut – tenggara dari wi­layah Cilacap ke daerah Majalengka-Kuningan terus ke Utara ke arah Subang kemudian terus mendekati Ja­karta. 

Dalam 100 tahun terakhir sudah banyak gempa-gempa kecil sampai sedang di ketiga sistem patahan gempa tersebut. Walaupun tidak teralu besar gempa-gempa itu menyebabkan cukup banyak kerusakan karena populasi padat, struktur bangunan yang tidak memadai dan kedekatan dari sumber patahan gempanya.  Dari hasil pemetaan dapat diperkirakan bahwa patahan-patahan tersebut berpotensi untuk menghasilkan gempa besar.  Perlu dilakukan studi lebih detil untuk mengetahui lokasi lebih akurat dan karakteristik gempanyater masuk frekuensi perulangan, sejarah gempa di masa purba (pra-sejarah) dan efek merusaknya. Bencana gempa dapat diaki­batkan oleh goncangan keras yang merun­tuhkan struktur bangunan, pergerakan tanah di sepanjang jalur patahan gempa, atau bahaya ikutan berupa longsor dan tsunaminya. Miti­gasi bencana gempa diantaranya dapat dilakukan de­ngan cara:

 

1.  Memberikan informasi se-akurat mungkin tentang lo­ka­si jalur-jalur patahan gempa sehingga tidak mem­bangun pas di atasnya,

2.  Melaksanakan peraturan bangunan tahan gempa yang sesuai dengan tingkat goncangan yang mungkin terjadi, dan

3.   Menghindari ancaman bahaya-bahaya ikutan. Selain itu diperlukan penyelenggarakan pendidikan masya­rakat, termasuk pengenalan aspek bencana alam, terma­suk gempa dalam kurikulum pendidikan formal mulai dari tingkat SD. Fungsi pendidikan, selain untuk dapat mempersiapkan dan men­siagakan masyarakat terhadap berbagai bencana alam, juga untuk meredam berbagai isu-isu yang menyesatkan tentang ramalan-ramalan gempa yang sering beredar di masyarakat melalui berbagai media massa.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III