Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung
Jawa Barat merupakan sentra poténsial untuk pengembangan domba garut, tercatat sampai saat ini populasi mencapai 57 % dari populasi domba nasional, dan domba garut merupakan salah satu komoditi unggulan yang dikembangkan. Domba garut merupakan hasil persilangan dari tiga bangsa yaitu antara domba merino, domba kaapstad dan domba lokal. Persilangan diperkirakan mulai sekitar tahun 1864 ketika pemerintah Hindia Belanda memasukan domba merino sebanyak 19 ékor betina dan seékor jantan ke Garut yang dipelihara K.F. Holle. Terbentuknya bangsa domba garut seperti sekarang ini merupakan hasil seléksi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun dan adaptasinya terhadap lingkungan setempat. Domba garut merupakan plasma nuftah Jawa Barat yang memiliki keunggulan atara lain prolifikasi (jumlah anak per kelahiran) tinggi, kualitas daging baik, kualitas kulit terbaik, agrésifitas tinggi dan memiliki nilai artistik. Ternak domba memiliki peran penting baik secara ékonomis maupun sosial bagi petani, yaitu sebagai penghasil daging, pupuk , sumber pendapatan tunai bahkan sebagai tabungan dan status sosial. Budaya masyarakat secara turun temurun yang sudah terbiasa memelihara domba, merupakan salah satu kekuatan dalam pengembangan usaha ternak domba. Adanya kontés domba baik yang diselenggarakan oleh Dinas Peternakan atau organisasi HPDKI merupakan faktor pendorong bagi peternak untuk meningkatkan kualitas dombanya baik melalui tatalaksana pemeliharaan maupun pembibitan. Berdasarkan keunggulan tersebut, domba garut sangat poténsial untuk dijadikan komoditas unggulan Jawa Barat, sebagai penggerak ékonomi yang didukung tersedianya sumber daya manusia (peternak) dan sumber daya alam, putaran modal usaha yang cepat, penyedia bahan industri, penyedia lapangan kerja di pedesaan serta pasar doméstik maupun ékspor terbuka dan ditambah dengan adanya seni ketangkasan domba yang diiringi khas gamelan Jawa Barat serta seni pencak silat dapat dijadikan sebagai asét Pariwisata di Jawa Barat.