Penyair, Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS)
Salah satu upaya untuk mengantisipasi atau menolak malapetaka yang dilakukan oléh masyarakat Sunda masa lalu adalah melaksanakan upacara ngaruwat. Pada umunya upacara ini dilaksanakan dengan mempergelarkan cerita Batara Kala melalui pertunjukan wayang golék, namun di beberapa tempat ada juga yang menggelar cerita tersebut melalui pegelaran seni wayang pantun, pantun, dan beluk. Upacara penolak bala (malapetaka) ini merupakan keharusan bagi orang-orang yang disebut sukerta yaitu orang yang wajib diruat berdasarkan status anak dalam keluarga dan mereka yang melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu.
Cerita Batara Kala sebagai média upacara ngaruwat merupakan salah satu cerita wayang yang khusus dipergelarkan untuk upacara tersebut. Sebagai cerita ritual, banyak sekali aturan dan atau persyaratan yang harus dipatuhi berkenaan dengan bagaimana memperlakukan cerita Batara Kala; baik pada waktu pelaksanaan ngaruat maupun di luar itu. Sejumlah persyaratan berupa sesaji dan nonsesaji yang terdiri dari anéka bahan makanan (nabati dan héwani) hingga pakaian dan perlengkapannya, harus disediakan dan digelar pada saat upacara.
Nilai-nilai étika dan kearifan yang menjadi pegangan masyarakat Sunda pada masa lalu semua terkandung dalam rangkaian upara ngaruat dan perlengkapannya