KIBS II, 19—22 Desember 2011

Makna Simbolik Tradisi Ruwatan Sebagai Salah Satu Sumber Etika Masyarakat Sunda Masa Lalu

Etti R.S.

Penyair, Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS)

Salah satu upaya untuk mengantisipasi atau menolak malapetaka yang dilakukan oléh masyarakat Sunda masa lalu adalah melaksanakan upacara  ngaruwat. Pada umunya upacara ini dilak­sa­nakan dengan mempergelarkan cerita Batara Kala melalui pertunjukan wayang golék, namun di beberapa tempat ada juga yang menggelar cerita tersebut  melalui pegelaran seni  wayang pantun, pantun, dan beluk.  Upacara penolak bala (malapetaka) ini merupakan keharusan bagi orang-orang yang disebut  sukerta yaitu orang yang wajib diruat  berdasarkan status anak dalam keluarga dan mereka yang melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu.

Cerita Batara Kala sebagai média upacara ngaru­wat merupakan salah satu cerita wayang yang khusus dipergelarkan untuk  upacara tersebut.   Sebagai cerita ritual, banyak sekali aturan dan atau persyaratan yang harus dipatuhi berkenaan dengan bagaimana memperlakukan cerita Batara Kala; baik pada waktu pelaksanaan ngaruat maupun di luar itu.  Sejumlah persyaratan berupa sesaji dan non­sesaji yang terdiri dari anéka bahan makanan (nabati dan héwani) hingga pakaian dan perlengkapannya, harus disediakan dan digelar pada saat upacara.   

Nilai-nilai étika dan kearifan yang menjadi pegangan masyarakat Sunda pada masa lalu semua terkandung dalam rangkaian upara ngaruat dan perlengkapannya

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III