Head of Corporate Research PT Bank Mega, Tbk., dan Kepala KonsentrasiEkonomi Perbankan, Prodi IV Universitas Trisakti
Sebagai suatu suku (étnis), bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonésia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara di antaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, dll.
Dilihat dari segi letak géografis, masyarakat Tatar Sunda lebih banyak bermata pencaharian berkebun dan bertani, karena banyak daérah yang berudara dingin. Pengaruh modérnisasi sedikit banyak berdampak pada pergéséran koridor perékonomian di tatar ini. Bahkan distribusi indikator perékonomian seperti ketenagakerjaan, séktor perékonomian yang dominan, bahkan kesejahteraan, sedikit banyak telah bergésér dari masa ke masa.
Dalam mitos Nusantara, orang dari Tatar Sunda dikatakan sebagai bangsa yang ramah, santun, dan tidak begitu ambisius (mitos: mangga ti payun). Tetapi juga cenderung pemalas. Orang Sunda dianggap kurang mandiri dan kurang memberikan kontribusi yang signifikan terhadap roda perékonomian. Benarkah anggapan itu?
Dalam tulisan ini penulis coba mengkaji dan memaparkan bagaimana potrét orang Sunda di Tatar Sunda dalam bidang ékonomi dan kemandirian (énterpreneurship). Dan bagaimana stratégi untuk memberdayakan masyarakat tatar Sunda dalam membangun ékonomi daérah sehingga dapat memberikan kontribusi yang positif bagi Indonésia secara umum.