Psikolog
Sejak penjajahan Jepang 1942–1945 sampai memasuki Abad 21 orang Sunda mengalami pemiskinan/kemiskinan dan pendangkalan budaya sehubungan dengan masalah ékonomi & politik yang tak kunjung selesai serta kehidupan budaya (khususnya kesenian daérah) yang terabaikan dan nilai-nilai hidup yang memudar. Akibatnya generasi muda Sunda sekarang seperti halnya orang Sunda umumnya seakan-akan terasing dari ajén-inajén atau nilai-nilai (values) sosial-budayanya sendiri serta kurang memahami betapa pentingnya fungsi nilai-nilai itu sebagai pembangun kemantapan karakter, perekat ikatan masyarakat dan landasan pengembangan budaya.
Akibatnya meréka seakan-akan tercerabut dari akar budaya dan mulai Sejak penjajahan Jepang 1942-1945 sampai memasuki Abad 21 orang Sunda mengalami pemiskinan/kemiskinan dan pendangkalan budaya sehubungan dengan masalah ékonomi & politik yang tak kunjung selesai serta kehidupan budaya (khususnya kesenian daérah) yang terabaikan dan nilai-nilai hidup yang memudar.
Akibatnya generasi muda Sunda sekarang seperti halnya orang Sunda umumnya seakan-akan terasing dari ajén-inajén atau nilai-nilai (values) sosial-budayanya sendiri serta kurang memahami betapa pentingnya fungsi nilai-nilai itu sebagai pembangun kemantapan karakter, perekat ikatan masyarakat dan landasan pengembangan budaya. Akibatnya meréka seakan-akan tercerabut dari akar budaya dan mulai kehilangan idéntitas diri, sehingga mudah terpukau, terbuai dan terbawa arus “modérnisasi’ (baca: wéstérnisasi) yang membanjir dalam kehidupan bangsa kita. Kondisi ini tentu saja akan memberi warna pada karakter generasi muda Sunda yang sedikit demi sedikit dan secara tak disadari mulai meninggalkan nilai-nilai tradisi, sedangkan hidup modérn belum sepenuhnya terjangkau. Mereka ada pada posisi transisi dalam kehidupan.
Apa yang berhasil diperoléh? Hal-hal lahiriah seperti penampilan, gaya hidup, konsumérisme dan pemilikan produk-produk canggih, sedangkan sifat, sikap dan cara pikir modérn belum mantap diserap seperti: étos kerja, lugas, mandiri, proaktif, visionér, daya saing, hémat, kebiasaan menabung dan peduli lingkungan alam serta pemanfaatan téknologi canggih untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Dari kajian pustaka dan diskusi dengan beberapa tokoh yang terlibat dengan kehidupan generasi muda Sunda diperoléh kesimpulan, antara lain:
1. Ada beberapa kondisi kejiwaan kurang baik yang perlu segera diubah menjadi lebih baik yaitu antara lain sebagai berikut:
- Dari sikap féodalistis menjadi démokratis;
- Puas dengan préstasi rata-rata menjadi berpréstasi tinggi
- Serba menurut (submissive, apatis) menjadi lugas (assertive, kréatif).
- Menanti adanya tokoh teladan menjadi diri sendiri sebagai teladan
- Tak kenal budaya Sunda menjadi cinta budaya sendiri.
- Réaktif menjadi proaktif
- Mistis dan beroriéntasi masa lalu menjadi réalistis beroriéntasi masa datang
- Takut bersaing menjadi berani bersaing
- Serba takut mengungkapkan kebenaran menjadi berani/TEUNEUNG dalam kebenaran.
2. Ada kesadaran atas kesenjangan antara citra diri saat ini (the actual self) dengan citra diri yang diidam-idamkan (the ideal self) serta kesepakatan untuk melakukan upaya pengembangan karakter, dalam artian menghilangkan karakter yang lemah/buruk dan mengembangkan poténsi diri dan karakter terpuji.
Upaya mengurangi kesenjangan itu paling tepat dicapai melalui pendidikan dan pelatihan karakter dengan berbagai bentuk, sistem dan métodologinya yang tepat pula. Selanjutnya dikemukakan modul “Pelatihan Karakter beroriéntasi Budaya bagi Generasi Muda Sunda” sebagai alternatif.