KIBS II, 19—22 Desember 2011

Simbolisme dalam Wayang Kulit Cirebon

Haryadi Suadi

Seniman, Dosen di FSRD ITB

Sunan Kalijaga merupakan salah seorang dari kelompok Wali Sanga yang telah mencipta pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan tujuan untuk syiar Islam. Setelah tugasnya sebagai penyebar Islam di daerah Jawa Tengah selesai, beliau menuju daerah Cirebon dengan tujuan yang sama. Selama tinggal di Cirebon beliau telah membuat seperangkat gamelan dan wayang kulit yang kemudian beliau sendiri yang bertindak sebagai dalangnya. Diperkirakan pada masa itu tata cara permainan wayang di daerah Cirebon dengan segala filosofi dan simbolismenya masih berdasarkan ajaran Sunan Kalijaga. Namun setelah beliau meninggalkan Cirebon, ajarannya tersebut tampaknya tidak sepe­nuh­nya dipakai oleh para dalang Cirebon, karena orang Cire­bon memiliki interpretasi sendiri terhadap seni per­tunjukan wayang sebagai alat syiar Islam. Buktinya dalam perkembangan selanjutmya dalam beberapa hal, terutama dalam hal simbolisme dan bentuk visual wayangnya, berbeda dengan gaya Jawatengahan.

Seperti kita ketahui bahwa seni tradisional tidak bisa lepas dari 2 hal yakni tersurat (leterlek) dan tersirat (persim­bolan). Ke dua hal tersebut juga terdapat dalam seni per­tujukan wayang kulit: Tersurat (berupa lakon yang diga­rap semenarik mungkin bagi penontonnya). Tersirat (diba­lik lakon tersebut terkandung makna dari suatu filo­sofi atau ajaran hidup yang bersifat keduniawian dan keba­tinan yang menuntun manusia kejalan selamat dunia akhirat). Oleh karena itu seni pertunjukan wayang kulit semalam suntuk disebut “tontonan dan tuntunan”. Bahkan simbolisme itu tidak cuma terdapat dalam lakonnya saja, melainkan juga dalam susunan peralatan / sarana  perlengkapan pertunjukannya seperti dalang (makrifat, Tuhan yang Maha Esa), dalung (belencong, hakekat, penerangan, Nur Muhamad), kelir (tarekat, gelar­nya jagat raya) dan wayang (sarengat, makhluk hidup de­ngan segala persoalan kehidupannya), janturan (wayang yang ditancapkan di atas gedebog pisang menceritakan asal-usul terjadinya alam semesta berikut isinya). Juga dalam panggung terdapat geligen, gedebok pisang, dalung, placek dan seperangkat gamelan yang merupakan simbol dari petunjuk hidup yang baik, seperti arif, waspada, jangan takabur, tenang dsb.

Jadi bisa disimpulkan bahwa pertunjukan wayang kulit semalam suntuk merupakan sarana “tontonan dan tuntunan” yang lengkap yang sangat berguna bagi kese­lamatan manusia dunia akhirat.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III