KIBS II, 19—22 Desember 2011

Upaya Pelestarian Ekologi Tatar Sunda

Johan Iskandar

Dosen dan Peneliti di Universitas Padjadjaran

Pada masa silam orang Sunda pada umumnya memiliki kemampuan memanfaatkan sumber daya alam dan mengelola lingkungan atau ékosistemnya secara lestari. Hal tersebut antara lain karena orang Sunda memiliki pengetahuan ékologi tradisional (Traditional Ecological Knowledge-TEK) yang mendalam dan memiliki pandangan ékologis terhadap ékosistemnya. Pengetahuan ékologi tradisional orang Sunda tersebut biasanya diperoleh dari hasil pewarisan dari leluhurnya secara turun temurun dan dari pengalaman pribadi melalui trial and error secara berkelanjutan sepanjang hayatnya. Selain itu, orang Sunda juga dalam kehidupannya  memiliki pandangan ékologis, bahwa meréka dalam kehidupan sehari-harinya mengganggap dirinya tidak bébas, terlepas dari pengaruh faktor-faktor biotik dan abiotik, serta kekuatan makrokosmos. Karena itu, dengan berbekal berbagai pengetahuan ékologi tradisional, serta dibalut  dengan pandangan ékologis, orang Sunda di masa silam  memiliki berbagai kearifan ékologi dalam mengelola lingkungannya. Misalnya, kearifan ékologi dalam pemanfaatan  tata ruang secara tradisional dengan sistem zonasi berdasarkan landasan kesakralan wilayahnya, dan kesesuaian untuk penggunaannya. Pun dalam pengelolaan sistem pertanian, orang Sunda senantiasa berlandaskan pada sistem pengetahuan ékologi tradisional dan téknologi  asli,  serta dengan mengadaptasikan dengan ékosistem lokalnya. Hal ini diwujudkan dalam pengelolaan sistem agroforéstri asli orang Sunda, seperti sistem ladang (huma), talun-kebun dan pekarangan, dengan menanam keanekaan jenis tanaman yang sangat tinggi. Dalam sistem pengelolaan sawah, orang Sunda pada umum­nya dengan menanam aneka ragam variétas padi lokal, dan biasa dipadukan dengan budidaya ikan atau pun budidaya palawija. Karena itu, sistem pertanian tradisional tersebut memiliki ketangguhan dan mampu menghadapi berbagai perubahan lingkungan yang tidak menentu sepanjang waktu, seperti bencana kekeringan, banjir, ledakan hama, serta pengaruh perubahan ekonomi pasar. 

Namun, sayangnya kini berbagai pengetahuan ékologi tradisional dan pandangan ékologis yang terwujud dalam rasa hormat orang Sunda terhadap ékosistem tersebut telah banyak mengalami perubahan. Akibatnya, kini tidak dapat dihindari lagi timbulnya berbagai bencana ékologi, seperti kerusakan hutan, banjir, kekeringan, dan ledakan hama, yang pada dasarnya semua itu diakibatkan éleh ulah manususia yang kurang atau tidak bijaksana terhadap lingkungannya. Karena itu, seyogianya berbagai konsep pengetahuan dan téknologi tradisional orang Sunda yang cukup baik dalam memanfaatkan dan mengelola ékosistemnya,  jangan dipandang sebagai  sesuatu yang ketinggalan zaman. Tapi, seyogianya, berbagai pengetahuan ékologi tradisional dan kearif­an ékologi tersebut dapat diintegrarasikan dengan pengetahuan ilmiah Barat, sehingga dapat berguna dalam menunjang pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam secara lestari untuk menopang pembangunan berkelanjutan di Indonésia.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III