Dosen dan Peneliti di Universitas Indonesia
Gerakan Darul Islam (DI) pada dasarnya merupakan aksli kolektif yang dipimpin oleh Sekar Maridjan Kartosuwirjo, yang dimulai secara resmi pada tanggal 7 Desember 1948, dengan agama Islam sebagai idelogi politiknya. Banyak peneliti yang sudah mengkaji tentang gerakan ini dan menyampaikan pendapatnya, seperti: Nieuwenhuijze (1958) yang menilai masalah ideologi (Islam) dan ekonomi sebagai penyebabnya; sementara Jackson (1971, 1980) yang bertolak dari sumber lisan dan pengamatannya di lapangan,menilai gerakan DI/TII mendapat dukungan rakyat pedesaan karena adanya budaya patrimonial atau tepatnya budaya “bapakisme”, yaitu kesetiaan buta pada panutannya. Sementara Van Dijk yang bertolak dari sumber-sumber sekunder berkesimpulan bahwa munculnya gerakan DI disebabkan oleh hancurnya struktur lama. Sementara Dengel melihat gerakan DI atau Negara Islam Indonesia (NII) pada dasarnya sudah lama direncanakan oleh Kartosuwirjo yang banyak dipengaruhi oleh ramalan Jayabaya. Ia melancarkan gerakan itu karena melihat situasi dan kondisi yang memungkinkan terwujudnya cita-cita yang telah lama dimimpikannya, yaitu suasana perang melawan Belanda yang kafir.
Paper ini mencoba untuk melihat kembali fenomena gerakan itu dengan tujuan untuk melihat kembali, seberapa besar pengaruh gerakan itu pada masyarakat muslim di pedesaan di Jawa Barat. Sejalan dengan tujuan itu maka ada dua pertanyaan yang hendak dicari jawabannya di sini, yaitu: (1) mengapa banyak komunitas muslim di pedesaan yang mendukung gerakan DI, dan (2) bagaimana sikap dan pandangan para alim ulama di Jawa Barat terhadapa DI?