Professor of Indonesian Studies Department of Asian Studies
Faculty of Foreign Studies Nanzan University
Buku pelajaran bahasa Sunda pada awalnya diterbitkanoleh pemerintah Hindia Belanda, persisnya oleh Landsdrukkerij pada paruh kedua abad ke-19. Kemudian pada tahun 1930an 3 jenis buku pelajaran yang berseri diterbitkanberulang kali oleh Balai Poestaka, yaitu Panjeongsi Basa (7 jilid, terbit pertama kali pada tahun 1933), Ganda Sari (5 jilid,terbit pertama kali pada tahun 1933), dan Roesdi djeung Misnem (4 jilid, terbit sekitar tahun 1930). Buku-buku tersebut dipakai pada sakola handap semasa zaman kolonial, tetapi dua seri buku pelajaran tersebut tetap dipakai setelah kemerdekaan. Sampai tahun 1960an tidak begitu banyak buku pelajaran bahasa Sunda diterbitkan kecuali Panggelar Boedi (3 jilid) yang disusun oleh Satjadibrata bersama W. Keizer, seorang ahli bahasa.
Ada perubahan dalam isi buku pelajaran bahasa Sundase telah akhir tahun 1950an. Kalau dibandingkan dengan buku pelajaran sebelumnya yang biasanya merupakan semacam kumpulan cerita dan dongeng, buku pelajaran bahasa Sunda yang baru mulai mengajar tata bahasa mengikuti ilmu linguistik modern. Misalnya, seri Kandaga yang seluruhnya ada 8 jilid, terdiri dari kumpulan cerita, tata bahasa dan sastra untuk murid sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas (terbit sejak tahun 1957). Sedangkan untuk murid SD ada Pamekar Basa (12 jilid, terbit pertama kali pada tahun 1958) atau Taman Sekar (5 jilid, terbit pertama kali pada tahun 1958). Buku-buku pelajaran tersebut menjadi standar selama hampir 30 tahun.
Buku pelajaran bahasa Sunda terus dikembangkan sampai masa kini. Pengajaran bahasa Sunda tidak pernah terhentisetelah sistem pendidikan Barat dikenalkan di kalangan masyarakat Sunda. Sejarah pengajaran bahasa Sunda beserta perkembangan buku pelajaran Bahasa Sunda ini membuktikan perhatian besar atau nyaah (rasa sayang) orang Sunda terhadap bahasa mereka sendiri. Hal itu menjadi lebih jelas kalau kita membandingkannya dengan bahasa daerah yang lain, misalnya bahasa Bali, bahasa Madura, bahasa Batak, yang buku pelajarannya masing-masingpernah diterbitkan oleh Balai Poestaka seratus tahun yang lalu.
Makalah ini akan membahas bagaimana orang Sunda mencoba membina identitas budaya dengan meneliti apa yang diajarkan dalam buku pelajaran bahasa Sunda dan apa yang sudah tidak diajarkan dalam perkembangan buku pelajarannya.