Pengajar Matakuliah Masalah Budaya dalam Perancangan Arsitektur
Arsitéktur sebagai salah satu hasil kebudayaan acapkali bersinggungan dan seringkali dihadapkan secara berseberangan dengan kemajuan budaya modérn. Ditengarai dalam kecenderungan dunia yang semakin menyejagat, justru spirit lokal menjadi hal penting yang harus dikedepankan.
Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana sintésis antara aspék lokal dan téknologi modérn pada Aula Barat ITB dan Gedung Saté di Bandung berhasil menampilkan spirit lokal pada tampilan arsitéktur modern. Sejak mulai dibangun pada tahun 1925 sampai sekarang kedua bangunan ini masih berfungsi dengan baik. Élémén-élémén bangunannya pun masih lengkap sehingga ékspresi bangunan secara keseluruhan rélatif tidak berubah. Léwat penelusuran anatomi bangunan, élémén yang menampilkan ikon (tanda) Sunda dapat dilokalisir dari tanda-tanda lain (élémén arsitéktur modérn) yang ada.
Makalah ini diangkat dari hasil penelitian sepanjang tahun 2010 yang berlandaskan pada gabungan pendekatan sistem ékspresi (komunikasi-tanda arsitéktur Sunda) dengan rélasi Fungsi-Bentuk-Makna dalam arsitéktur. Agar lebih objéktif diintegrasikan juga hasil kuésionér triangulasi (réspondén: awam, pengguna, dan pakar) ke dalam analisis. Hasil analisis tentang ékspresi tanda dengan wujud arsitéktur menunjukkan Aula Barat ITB dan Gedung Saté tetap menampilkan spirit Sunda walaupun menggunakan téknologi modérn. Élémén yang menampilkan spirit ini kemudian diklasifikasi dan diélaborasi agar dapat dijadikan acuan sekaligus menjadi wacana lanjut.