Pelukis dan Motivator
Bangsa yang memimpin di masa depan adalah bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat. Bangsa kita tentu menjadi salah satunya. Budaya Sunda sebagai bagian terbesar dari aset budaya nasional tentu memegang peranan penting. “Sunda” dan “Parahyangan” sendiri mengandung arti yang mengindikasikan masyarakat yang tercerahkan. Bahasa Sunda yang sering disebut sebagai “bahasa rasa”, sebenarnya merupakan bahasa yang didominasi oléh SQ.
Seiring dengan perkembangan zaman, budaya Sunda mengalami perubahan, pergéséran, bahkan pelunturan. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah terbentuknya tradisi urban di perkotaan yang secara membabibuta menjadi trend setter dalam kehidupan di berbagai pelosok dan lapisan masyarakat. Selain itu kita juga lemah dalam memfilter éksés négatif dari semakin terbukanya arus informasi dan globalisasi yang memberi pengaruh besar dalam menciptakan keterpurukan budaya lokal di Indonesia pada umumnya.
Oléh karena itu, révitalisasi budaya Sunda melalui langkah-langkah yang efektif, antara lain:
a. Membangkitkan internal leadership Ki Sunda sehingga memiliki keyakinan dan kepercayaan diri. Ketika seseorang mengenal jati dirinya, maka otomatis ia juga mengaksés universal values, yang merupakan modal utama agar mampu mengkonfirmasi dan menyerap local values Sunda. Karena di antara self values, local values dan universal values pada prinsipnya sama saja. Perbedaannya terletak pada bahasa dan pola;
b. “Bahasa interaksinya” saja yang diolah dan dikemas secara kréatif oléh para budayawan sedemikian sehingga mampu menunjukkan karya-karya yang transparan terhadap nilai, sehingga mudah dijadikan konsensus bersama. Saat bersamaan perkenalkan nilai-nilai Sunda dari zaman ke zaman melalui jejak karya-karya seni dan budaya, supaya Ki Sunda tidak kehilangan pola dasar dan oriéntasinya;
c. Memberikan kesadaran akan pentingnya transformasi koléktif. Memberikan dukungan dan kekuatan kepada para seniman dan budayawan Sunda sehingga memiliki ruang gerak yang memadai dalam menuangkan nilai-nilai Sunda melalui kreatifitas, inovasi, dan sebagainya, sehingga adaptif dengan konteks sekarang.
d. Ki Sunda selalu bersikap untuk memenangkan paradaban, baik pada khazanah plural serta global, menjadi panutan, rujukan dalam hal pelayanan, kemampuan menumbuhkembangkan, serta senantiasa memberi solusi secara multidiménsi.
Melalui langkah-langkah tersebut révitalisasi budaya Sunda diharapkan mampu menjawab éksés-éksés masalah yang terkait dengan globalisasi: kompléksitas, kompetisi, serta tegak laju entropi.