KIBS II, 19—22 Desember 2011

Melacak Jejak Leluhur: Peradaban dan Seni Dokumentasi

Ray Bachtiar Dradjat

Fotografer, pendiri RBStudio dan KLJI (Komunitas Lubang Jarum Indonesia)

Fotografi sebagai salah satu medium teknik perekaman gambar, prinsip tekniknya berbahasa rupa Naturalis-Prespektip-Momen opname (N-P-M). Gambar ditembak dari satu arah satu jarak dan satu waktu, menghasilkan “gambar mati” (still picture) sebagaimana wacana basis seni rupa modern barat. Dari sisi ini penggunaan media fotografi sebagai media dokumentasi dianggap menjadi suatu kebenaran yang lebih “akurat” dibanding tulisan dan gambar tangan yang bisa dipengaruhi penafsiran subyetif sipenulis/penggambar. Namun makalah ini mencoba mengoreksi mindset dan konsep fotografi umum tersebut karena akan sangat berhubungan dengan hasil pendokumentasian nilai dan makna warisan budaya Indonesia, khususnya budaya Sunda, yang masih menggunakan cara perupaan masa purba nusantara, prinsip bahasa rupa Ruang-Waktu-Datar (R-W-D), montase, kolase, dan asembling yang justru banyak dipengaruhi penafsiran subyetif. Lahirnya teknologi digital sesungguhnya menguntungkan dan menantang fotografer untuk memfotografikan konsep “senirupa” zaman baheula tersebut yang sesungguhnya sudah lebih dulu mempengaruhi senirupa Barat seperti aliran kubisme, futurisime, dadaisme, surealisme dan kemudian pop art serta post modernisme. Pen­dokumentasian pun pada akhirnya tidak hanya terbatas pada fotografi dan multimedia saja, tapi bisa dilengkapi oleh video/film dokumenter bahkan karya seni atau pameran yang mengangkat materi budaya tradisi.

Pembabakan sejarah peradaban manusia yang selalu berubah karena sebuah “revolusi” peradaban pun dijelaskan untuk memberi gambaran kedudukan dan posisi kita yang mengaku hidup di era peradaban manusia yang ke-tiga, Era Informatika. Revolusi, memang menjadi kata kunci dalam setiap perubahan besar yang titik beratnya ada pada kreativitas manusia. Namun kreativitas ini bisa juga meng­hancurkan bumi sekaligus kehidupannya. Dan ter­wujudnya pendokumentasian nilai dan makna budaya tradisi dan alam yang baik, benar, dan menarik, diharap­kan bisa jadi bahan diskusi masyarakat umum, para ahli, serta komunitas adat di Indonesia, de­ngan harapan bisa dijadikan kajian diskusi agar wa­risan budaya beserta para pendukungnya bisa tetap hadir secara aktual tanpa kehilangan keindahan dan keluhuran nilai-nilai yang ada di dalamnya. Untuk itu para kita semua hams PROAKTIF.

Sepertinya sudah tiba saatnya bagi kita untuk ber-instrospeksi diri. Bersama bekerja dan berjuang menyikapi perubahan dengan tidak saling menyalahkan.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III