KIBS II, 19—22 Desember 2011

Menjejaki Budaya Visual Urang Sunda: Studi Lambang-lambang Pemerintah Daerah di Propinsi Jawa Barat

Reiza D. Dienaputra

Dosen di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran

Tatar Sunda sebagai sebuah wilayah géografis, tidak hanya kaya dengan berbagai poténsi sumber daya alam tetapi juga sarat dengan berbagai peristiwa sejarah dan tinggalan budaya. Banyaknya peristiwa sejarah dan tinggalan budaya yang berserakan di berbagai wilayah di tatar Sunda tidak saja dikarenakan panjangnya akar sejarah yang dimiliki oléh tatar Sunda tetapi juga dikarenakan interaksi budaya urang Sunda yang demikian intens dengan berbagai kebudayaan besar, baik Hindu-Budha, Islam, maupun kebudayaan Barat. Menarik untuk diamati, bagaimanakah réalitas poténsi sumber daya alam, sejarah dan budaya yang demikian panjang yang melingkupi wilayah tatar Sunda berpengaruh terhadap budaya visual urang Sunda. Dalam kaitan itulah, studi tentang lambang-lambang pemerintah daérah di Jawa Barat berupaya mencari jawaban tentang relasi antara poténsi sumber daya alam, sejarah dan latar budaya tatar Sunda dengan budaya visual masyarakat.

Untuk membedah masalah tersebut, studi ini menggunakan métode sejarah, yang terdiri dari heuristik, kritik, interprétasi, dan historiografi,  serta métode content analysis, yang juga mencakup empat tahapan besar, yakni, finding images, devising categories for coding, coding the images, serta analysing the results. Sementara untuk mencapai hasil yang lebih kompréhénsif digunakan pula pendekatan politik dan pendekatan kebudayaan, khususnya pendekatan seni rupa dan désain.

Hasil pengkajian terhadap lambang-lambang pemerintahan daérah di Jawa Barat memperlihatkan bahwa budaya visual urang Sunda tampak dipengaruhi kuat oleh réalitas poténsi sumber daya alam, sejarah, dan latar budaya. Berbagai élémén visual, khususnya bentuk dan warna yang dipilih oléh berbagai pemerintahan daérah di Jawa Barat tampak memiliki keterkaitan erat dengan poténsi sumber daya alam, sejarah dan tinggalan budaya di tatar Sunda.  Dari 67 bentuk (logo-symbol) yang digunakan pemerintah-pemerintah daérah dalam lambangnya, setidaknya ada empat bentuk yang paling banyak digunakan, yakni gunung, padi, sungai, dan kujang. Menarik untuk dikemukakan di sini, réalitas sedikitnya pemerintah daérah yang menggunakan kujang dalam lambangnya, mem­perlihatkan bahwa kujang bukanlah logo-symbol yang dapat direpresentasikan sebagai idéntitas budaya tatar Sunda, khususnya propinsi Jawa Barat. Setidaknya sebagaimana yang tercermin dalam lambang-lambang pemerintah daerah.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III