Guru Basa Sunda di SMPK Bina Bakti-2 dan SMPK/SMAK Trimulia, Bandung
Kebudayaan Sunda (baik bahasa maupun kesenian) di kalangan étnis Tionghoa di Jawa Barat sudah tidak asing lagi. Bahkan tidak sedikit warga keturunan (étnis Tionghoa) yang juga terlibat dalam melestarikan budaya Sunda, terutama di bidang kesenian.
Demikian pula penggunaan bahasa Sunda di kalangan étnis Tionghoa ,bukanlah hal yang asing. Sebagian besar masyarakat étnis Tionghoa yang tinggal di Jawa Barat pada umumnya memahami bahasa Sunda yang dipergunakan sebagai pengantar dalam percakapan sehari-hari. Bahkan masyarakat étnis Tionghoa yang tinggal di pedésaan, sangat fasih menggunakan bahasa Sunda dalam berkomunikasi dengan masyarakat sekitarnya. Hanya sayangnya penggunaan bahasa Sunda di perkotaan kurang mendapat perhatian dari pemakainya, karena masyarakat étnis Tionghoa pada umumnya menggunakan bahasa loma yang terkesan kasar dalam berkomunikasi di masyarakat.
Kebijakan pemerintah yang memasukkan pembelajaran bahasa Sunda sebagai muatan lokal di tingkat SD, SLTP, bahkan sampai dengan SLTA, merupakan titik terang dan sangat membantu pelestarian budaya Sunda. Dengan demikian maka pelajar yang akan menjadi generasi penerus perjuangan bangsa, mengenal budaya Sunda sejak kecil. Setidaknya kecintaan terhadap budaya Sunda sudah ditanamkan sedini mungkin.
Dewasa ini budaya Sunda terutama di perkotaan mengalami kemunduran di kalangan generasi muda. Kemajuan téknologi yang begitu pesat, sangat besar pengaruhnya terhadap éksisténsi budaya Sunda, baik di lingkungan masyarakat Sunda maupun di kalangan étnis Tionghoa. Kesenian dari budaya lain mulai menggésér budaya Sunda yang asli. Keberhasilan penggunaan bahasa pesatuan, yaitu bahasa Indonesia pun berdampak terhadap perbendaharaan bahasa Sunda. Bahasa Sunda yang sudah berbaur dengan bahasa Indonesia, acap kali dipergunakan untuk berkomunikasi oleh anak-anak dan orang déwasa. Baik di kalangan étnis Tionghoa, maupun di lingkungan orang Sunda sendiri.
Memperhatikan fénoména di atas, maka dibutuhkan langkah kongkrit untuk melestarikan budaya Sunda di kalangan étnis Tionghoa. Menemukan akar permasalahan yang menghambat dalam melestarikan budaya Sunda, merupakan langkah awal untuk menentukan langkah selanjutnya, sehingga pelestarian budaya Sunda di kalangan étnis Tionghoa dapat terwujud. Itulah yang akan menjadi bahasan dalam makalah ini