KIBS II, 19—22 Desember 2011

Ngamumulé Budaya Sunda di Kalangan Etnis Tionghoa

Rinne Tanumuljana

Guru Basa Sunda di SMPK Bina Bakti-2 dan SMPK/SMAK Trimulia, Bandung

Kebudayaan Sunda (baik bahasa maupun kesenian) di kalangan étnis Tionghoa di Jawa Barat sudah tidak asing lagi. Bahkan tidak sedikit warga keturunan (étnis Tionghoa) yang juga terlibat dalam melestarikan budaya Sunda, terutama di bidang kesenian.

Demikian pula penggunaan bahasa Sunda di kalangan étnis Tionghoa ,bukanlah hal yang asing. Sebagian besar masyarakat étnis Tionghoa yang tinggal  di Jawa Barat pada umumnya memahami  bahasa Sunda yang dipergunakan sebagai pengantar dalam percakapan sehari-hari. Bahkan masyarakat étnis Tionghoa yang tinggal di pedésaan, sangat fasih  menggunakan bahasa Sunda dalam berkomunikasi dengan masyarakat sekitarnya. Hanya sayangnya penggunaan bahasa Sunda di perkotaan kurang mendapat perhatian dari pemakainya, karena masyarakat étnis Tionghoa pada umumnya meng­gunakan bahasa loma yang terkesan kasar dalam berkomunikasi  di masyarakat.

Kebijakan pemerintah yang memasukkan pem­be­lajaran bahasa Sunda sebagai muatan lokal di tingkat SD, SLTP, bahkan sampai dengan SLTA, merupakan titik terang  dan  sangat membantu pe­lestarian budaya Sunda. Dengan demikian maka pelajar yang akan menjadi generasi penerus perjuangan bangsa, mengenal budaya Sunda sejak kecil. Setidaknya  kecintaan terhadap budaya Sunda sudah ditanamkan sedini mungkin.

Dewasa ini  budaya Sunda terutama di perkotaan mengalami kemunduran di kalangan generasi muda. Kemajuan téknologi yang begitu pesat, sangat besar pengaruhnya terhadap éksisténsi budaya Sunda, baik di lingkungan masyarakat Sunda  maupun di kalangan étnis Tionghoa. Kesenian dari budaya lain  mulai menggésér budaya Sunda yang asli. Keberhasilan penggunaan bahasa pesatuan, yaitu bahasa Indonesia pun berdampak terhadap  perbendaharaan bahasa Sunda. Bahasa Sunda yang sudah berbaur dengan bahasa Indonesia, acap  kali dipergunakan untuk berkomunikasi oleh anak-anak dan  orang déwasa. Baik di kalangan étnis Tionghoa, maupun  di lingkungan orang Sunda sendiri.   

Memperhatikan fénoména di atas, maka dibutuhkan langkah kongkrit untuk melestarikan budaya Sunda di kalangan étnis Tionghoa. Mene­mukan akar permasalahan yang menghambat dalam melestarikan bu­daya Sunda, merupakan langkah awal untuk  menentukan langkah selan­jutnya, sehingga peles­tarian budaya Sun­da di kalangan étnis Tionghoa  dapat terwujud. Itulah yang akan menjadi bahasan dalam makalah ini

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III