Dosen Jurusan Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung
Fenomena yang menggejala dalam kehidupan akhir-akhir ini, yakni telah hilangnya karakter bangsa yang santun, beretika, serta bermusyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Indonesia yang berlangsung bertahun-tahun. Kini kenyataan yang ada adalah pergaulan bebas, tawuran masal, dan penyimpangan moral lainnya yang kerap mewarnai sisi buruk kehidupan remaja kita. Dalam posisi seperti itu, pendidikan kerap dianggap gagal untuk membentuk manusia yang manusiawi. Indikator yang menyebabkan hal itu terjadi salah satu di antaranya kurangnya kesimbangan antara nalar (kognitif) rasa (apektif), serta karsa (psikomotor) dalam ranah pembelajaran kita. Kita ketahui bersama, bahwa tidak dapat dipungkiri orientasi prestasi belajar kini hanya diukur bila nalar dan keterampilan saja yang bagus, sementara rasa (kehalusan budi) terabaikan. Maka dari itu, perlu upaya guna mengembalikan pada keseimbangan proses pembelajaran, sebagaimana Ki Hadjar Dewantara pernah berpendapat bahwa pembelajaran yang ideal bilamana nalar, rasa dan karsanya seimbang. Dengan alasan tersebut, penulisan ini dilakukan yang tiada lain untuk memetakan solusi alternatif dengan mendekatkan pada salah satu pembelajaran yang mengangkat nilai kebersamaan. Salah satu proses pembelajaran yang mengedepankan nilai kebersamaan adalah pembelajaran seni gamelan Sunda, di mana di dalamnya secara metodologis mengajarkan setiap pembelajar harus bekerjasama, berbagi peran, tidak saling menonjolkan diri-sendiri untuk mencapai harmoni yang dibutuhkan. Menabuh gamelan merupakan kerja ensambel yang pencapaian musikalitasnya dilakukan secara bersama-sama, bukan orang per-orang. Dengan demikian, secara praksis belajar gamelan adalah belajar kebersamaan dari yang berbeda-beda (sekurang-kurangnya ada 14 instrument yang berbeda teknis menabuhnya).