Masyarakat Geografi Indonesia, Kelompok Riset Cekungan Bandung ( KRCB )
Paling tidak ada tiga hal yang penting dalam kehidupan masyarakat Sunda, yaitu hutan, sungai, dan telaga. Tiga hal itu banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat, ketika sistem itu masih dijaga keberlangsungannya. Kelestarian hutan yang terjaga dan dipelihara dengan sepenuh hati oleh masyarakat, terlihat dari banyak mataair yang tidak pernah mengering. Air yang keluar bersih itu, dimuliakan untuk kehidupan warganya. Air yang menjadi kotor setelah digunakan, dibersihkan kembali menjadi air bersih sebelum air itu dikembalikan ke sungai. Bila air yang keluar dari mataair itu lebih dari cukup untuk mengairi sawah, sehingga kelebihan airnya dipergunakan untuk memelihara ikan di balong, di kolam, sekaligus sebagai upaya untuk menjernihkan kembali air, sebelum air itu masuk ke sungai.
Sungai, yang terdapat dalam prasasti sering ditafsirkan sebagai parit pertahanan. Tentulah, parit yang dibuat atas perintah Raja itu harus dipelihara dengan baik, sehingga fungsinya tetap terjaga. Keadaan sungai tidak terlepas dari keadaan hutan, sehingga Raja memerintahkan untuk membuat hutan. Dan ketika air melimpah, Raja memerintahkan untuk membuat telaga.
Bagaimana air dimuliakan, sehingga kehidupan warganya menjadi lebih baik, masyarakat Sunda sudah melaksanakan itu, dan di beberapa lembur adat, seperti di Lembur Naga dapat menjadi tempat untuk kita bercermin. Di puncak dan punggung gawir, oleh warga dijadikan hutan tanaman keras. Di bagian lainnya, ada hutan larangan, sehingga secara teratur dipelihara. Angin dari berbagai arah, disaring dan dilunakkan dayanya oleh hutan yang masih terjaga.
Hutan yang terjaga telah mengatur tubuhnya sehingga tidak mudah longsor, mengatur tata air, yang dikeluarkan secara teratur di matair. Air dimanfaatkan untuk kebutuhan hidupnya, bila lebih dimanfaatkan untuk bersawah, dan bila masih berlebih akan dimanfaatkan menjadi kolam ikan. Inilah yang menyebabkan masyarakat Sunda menjadi produktif, sehingga mandiri, mandiri dalam pangan dan gizi. Karena mandiri, maka masyarakat menjadi kuat, tidak tergantung kepada orang lain, dan melahirkan sikap égaliter. Dan, bila hutannya dirusak, air akan begitu sulit di musim kemarau, dan sangat berlimpah menjadi banjir di musim penghujan. Kehancuran hutan adalah awal kehancuran tatanan kemandirian itu.