Staf Pengajar di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran
Jika kita mengingat kembali masa kanak-kanak kita yang telah lama berlalu, ada pengalaman yang sangat berkesan dengan hadirnya bacaan koléktif, yaitu buku bacaan yang dapat dinikmati oleh setiap anak yang hidup pada masanya. Bacaan koléktif yang pernah jaya dalam catatan sejarah masyarakat Sunda, misalnya Rusdi jeung Misnem, Panggelar Boedi, Ganda Sari, dan Taman Pamekar. Sayang sekali tradisi bacaan koléktif telah lama mati terlindas kemajuan média. Bacaan-bacaan yang ada kurang memberikan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Sehingga beberapa generasi yang tidak merasakan hadirnya bacaan kolektif tidak memiliki pengalaman bersama dalam memaknai hidup.
Peluang untuk menghidupkan kembali bacaan kolektif di sekolah-sekolah sangat terbuka dengan adanya: (1) Program pengembangan pendidikan 2010-2014 yang diagéndakan oléh Kementrian Pendidikan Nasional dengan visi “Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif”; (2) Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daérah sebagai landasan kebijakan dalam program penerbitan buku téks pelajaran bahasa Sunda dan buku bacaan muatan lokal bahasa dan sastra daérah berkualitas; serta (3) perkembangan studi sastra anak yang berkaitan dengan keragaman génre sastra.
Penerbitan kembali bacaan koléktif tentunya menghadapi berbagai tantangan, di antaranya: (1) maraknya téks kompetitor semacam film kartun, yang sekarang ini sudah terbangun sebagai suatu rezim yang besar dan canggih; (2) film sastra anak yang telah menyisip dalam segala ‘alat-alat’ kehidupan anak; (3) membanjirnya sastra terjemahan sebagai bacaan anak; dan (4) sebagian anak-anak masa kini memiliki tuntutan cerita yang lebih kompléks baik secara struktur maupun isi. Adanya kemauan dan upaya pada setiap pihak, penulis yakin bahwa bangsa yang besar ini akan menghasilkan kembali buku bacaan yang bermutu sebagai bahan ajar yang tentunya bermuatan budaya yang dapat mengekalkan karakter bangsa.