Ketua Jurusan Sastra Sunda, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran
Masuknya sajak Sunda dalam khazanah sastra Sunda telah memicu polemik hingga dua kali, padahal génre cerita pendék dan novél diterima begitu saja. Tentu, ada sesuatu yang bermakna dari fenoména itu. Untuk memahaminya kemunculan sajak Sunda akan diletakkan dalam kontéks dinamika hubungan kesundaan dan keindonésiaan dékade 1950-an dan 1960-an.
Dibaca dalam kontéks kesundaan sajak Sunda bukan hanya bentuk atau média éksprési sastra yang baru, tetapi menjadi aréna pertarungan idéntitas: mana Sunda, mana bukan Sunda. Dibaca dalam kontéks keindonésiaan, sajak Sunda bukan hanya pengaruh dari sastra Indonésia, tetapi menjadi arena kritik atas perilaku berbangsa yang cenderung mengabaikan suku bangsa.