KIBS II, 19—22 Desember 2011

Makna Ritual Padi di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang sebagai Revitalisasi Nilai Ketahanan Pangan

Usman Supendi

Dosen di Fakultas Adab Universitas Islam Negeri SGD Bandung

Revitalisasi nilai ritual padi di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang sudah masuk ke dalam kurikulum muatan lokal kesenian daerah di Sekolah Dasar.Di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang memiliki Desa Wisata di Desa Rancakalong, dan Kampung Adat di Desa Nagarawangi sebagai tempat pemeliharaan ritual padi, yaitu ritual peng­hormatan kepada padi. Ritual padi di Rancakalong meru­pa­kan penghormatan kepad aasal-usul padi dan penghormatan kepada leluhur yang membawa benih padi dari negeri Mataram ke Rancakalong. Sebab di Rancakalong ada dua mitos tentang padi, yaitu asal-usul padi ada dalam kehidupan, dan asal-usul benih padi dari negeri Mataram hingga menyebar di Rancakalong yang berkaitan pula dengan asal-usul ritual/seni tarawangsa ada di Rancakalong

Masyarakat Rancakalong sampai saat ini masih memegang teguh dan masih melaksanakan ritual padi tersebut. Setiap bulan Juli selalu melaksanakan acara nga­laksa selama seminggu. Adapun seni yang mengiringi­nya adalah seni tarawangsa yang berkaitan dengan asal-usul padi yang dibawa leluhur Rancakalong dari negeri Mataram, dan seni rengkong sebagai seni penghormatan padi dari sawah ke leuit (lumbung). Ketika Islam masuk muncul tradisi mubur suro yang kaitannya dengan cerita Nabi Nuh,  tetapi bertransformasi dengan adat setempat, sehingga ada nilai ritual penghormatan pada bahan pangan pada ritual mubur suro tersebut.

Ritual di Rancakalong. Ritual tarawangsa adalah (1) un­tuk penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghiang Sri seba­gai perwujudan Dewi Sri, (2) luapan rasa terimakasih karena padinya bisa dipanen dengan hasil yang berlimpah. Biasanya pelaksanaan ritual tarawangsa itu adalah (1) waktu panen (nyalin), tarawangsa ditabuh semalam suntuk, dan paginya dilanjutkan dengan acara nema (menuai padi), (2) setelah ampih pare (padi dimasukan ke lumbung), (3) disatukan dengan syukuran atau kenduri lain, seperti khitanan, pernikahan, hajat ngaruat (memberi jampe) rumah, atau kelahiran anak

Ritual ngalaksa merupakan upacara adat yang dilaku­kan warga adat Rancakalong dengan sistem ru­ruk­an atau kampung adat yang berhak menjadi pelak­sana ritual, yaitu (1) Kampung Rancakalong, (2) Kam­pung Cijere, (3) Kampung Cibunar, (4) Kampung Cikon­dang, (5) Kampung Legokpicung, dan (6) Kampung Pasir­biru. Ritual ini benar-benar menjaga warisan leluhur yang diperkirakan sudah dilakoni sejak abad ke-17. Upacara ngalaksa dahulu dilaksanakan tiga tahun sekali. Tetapi karena perkembangan jaman, dan ngalaksa sudah men­jadi komediti parawisata, maka sekarang acara ritual ini dilak­sanakan setiap setahun sekali. Biasanya dalam acara ngalaksaini, berlangsung selama sepekan (seminggu).

Ritual mubur suro, ritual yang berkaitan dengan penghormatan pada peristiwa Nabi Nuh. Dalam ritual ini menjadi dominan adalah penghormatan kepada bahan pangan, sedangkan seni yang menyertainya ada­lah seni tarawangsa atau jentreng. Sebab seni tarawangsa merupakan media pemersatu antara lahiriah dengan batiniah orang-irang di kahiangan (jabaninglangit). De­ngan ditabuhnya tarawangsa, selain untuk menghibur, juga untuk mendatangkan aura Nyi Pohaci Sanghiang Sri. Tarawangsa atau jentreng harus ditabuh ketika a) aca­ra ngawasuh beras, buah-buahan, pucuk-pucukan, ka­cang-kacangan, dan umbi umbian, serta b) dalam me­ngolahnya.

Nilai yang terkandung dalam ritual tersebut bagai­mana memanajemen pangan supaya tidak terjadi kekurangan pangan, manajemen pengolahan lahan pertanian dengan ramah lingkungan, dan pengolahan pangan agara menjadi bermanfaat untuk kesehan tubuh manusia.

Tanggal Penting

30 Oktober 2021

Batas Akhir Pengiriman Abstrak

17 Novémber 2021

Pengumuman Abstrak Terpilih

1 Desember 2021

Batas Akhir Pendaftaran Peserta

1—3 Désémber 2021

Pelaksanaan KIBS III