Dosen di Fakultas Adab Universitas Islam Negeri SGD Bandung
Revitalisasi nilai ritual padi di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang sudah masuk ke dalam kurikulum muatan lokal kesenian daerah di Sekolah Dasar.Di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang memiliki Desa Wisata di Desa Rancakalong, dan Kampung Adat di Desa Nagarawangi sebagai tempat pemeliharaan ritual padi, yaitu ritual penghormatan kepada padi. Ritual padi di Rancakalong merupakan penghormatan kepad aasal-usul padi dan penghormatan kepada leluhur yang membawa benih padi dari negeri Mataram ke Rancakalong. Sebab di Rancakalong ada dua mitos tentang padi, yaitu asal-usul padi ada dalam kehidupan, dan asal-usul benih padi dari negeri Mataram hingga menyebar di Rancakalong yang berkaitan pula dengan asal-usul ritual/seni tarawangsa ada di Rancakalong
Masyarakat Rancakalong sampai saat ini masih memegang teguh dan masih melaksanakan ritual padi tersebut. Setiap bulan Juli selalu melaksanakan acara ngalaksa selama seminggu. Adapun seni yang mengiringinya adalah seni tarawangsa yang berkaitan dengan asal-usul padi yang dibawa leluhur Rancakalong dari negeri Mataram, dan seni rengkong sebagai seni penghormatan padi dari sawah ke leuit (lumbung). Ketika Islam masuk muncul tradisi mubur suro yang kaitannya dengan cerita Nabi Nuh, tetapi bertransformasi dengan adat setempat, sehingga ada nilai ritual penghormatan pada bahan pangan pada ritual mubur suro tersebut.
Ritual di Rancakalong. Ritual tarawangsa adalah (1) untuk penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghiang Sri sebagai perwujudan Dewi Sri, (2) luapan rasa terimakasih karena padinya bisa dipanen dengan hasil yang berlimpah. Biasanya pelaksanaan ritual tarawangsa itu adalah (1) waktu panen (nyalin), tarawangsa ditabuh semalam suntuk, dan paginya dilanjutkan dengan acara nema (menuai padi), (2) setelah ampih pare (padi dimasukan ke lumbung), (3) disatukan dengan syukuran atau kenduri lain, seperti khitanan, pernikahan, hajat ngaruat (memberi jampe) rumah, atau kelahiran anak
Ritual ngalaksa merupakan upacara adat yang dilakukan warga adat Rancakalong dengan sistem rurukan atau kampung adat yang berhak menjadi pelaksana ritual, yaitu (1) Kampung Rancakalong, (2) Kampung Cijere, (3) Kampung Cibunar, (4) Kampung Cikondang, (5) Kampung Legokpicung, dan (6) Kampung Pasirbiru. Ritual ini benar-benar menjaga warisan leluhur yang diperkirakan sudah dilakoni sejak abad ke-17. Upacara ngalaksa dahulu dilaksanakan tiga tahun sekali. Tetapi karena perkembangan jaman, dan ngalaksa sudah menjadi komediti parawisata, maka sekarang acara ritual ini dilaksanakan setiap setahun sekali. Biasanya dalam acara ngalaksaini, berlangsung selama sepekan (seminggu).
Ritual mubur suro, ritual yang berkaitan dengan penghormatan pada peristiwa Nabi Nuh. Dalam ritual ini menjadi dominan adalah penghormatan kepada bahan pangan, sedangkan seni yang menyertainya adalah seni tarawangsa atau jentreng. Sebab seni tarawangsa merupakan media pemersatu antara lahiriah dengan batiniah orang-irang di kahiangan (jabaninglangit). Dengan ditabuhnya tarawangsa, selain untuk menghibur, juga untuk mendatangkan aura Nyi Pohaci Sanghiang Sri. Tarawangsa atau jentreng harus ditabuh ketika a) acara ngawasuh beras, buah-buahan, pucuk-pucukan, kacang-kacangan, dan umbi umbian, serta b) dalam mengolahnya.
Nilai yang terkandung dalam ritual tersebut bagaimana memanajemen pangan supaya tidak terjadi kekurangan pangan, manajemen pengolahan lahan pertanian dengan ramah lingkungan, dan pengolahan pangan agara menjadi bermanfaat untuk kesehan tubuh manusia.