Posisi Mh. Rustandi Kartakusuma (MRK) dalam Sastera Sunda terbilang unik. MRK sebelumnya memperoleh kesempatan untuk melanglang kebudayaan dunia, khususnya Eropa, langsung dari sumbernya. Dari pengamatannya itu MRK menarik kesimpulan bahwa pemahaman pemikir budaya modern Indonesia terhadap budaya modern Barat tidak utuh. MRK kemudian menawarkan sesuatu yang lain, baik dalam bentuk esai maupun drama, yang menurut pemahamannya memberikan arah pemikiran yang lebih pas. Namun, dalam konteks Indonesia, yang ditawarkan MRK itu tidak memperoleh respons yang wajar. Atau diabaikan.
Keterlibatan MRK dalam Sastera Sunda baru muncul pada awal dasawarsa tahun 1960-an, pada saat polarisasi kebudayaan di Indonesia sedang tajam-tajamnya. Secara politis, MRK aktif di LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) sebuah organ dari PNI yang berpaham kebangsaan. Sehingga keterlibatannya yang aktif dalam Sastera Sunda menjadi menarik, karena secara politis LKN tidak menaruh minat serius terhadap budaya daerah.
Makalah akan mencoba menelusuri pemikiran MRK yang direfleksikannya baik dalam karyanya sendiri maupun lewat proses pendidikan terhadap penulis-penulis muda.
Ketika menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Manglé MRK secara sistematis mendidik dan melahirkan kader-kader baru (sering disebut "muridnya"), dan ternyata berhasil, padahal para kadernya itu sebelumnya belum memiliki nama sama sekali.
Setelah keluar dari Manglé MRK mendirikan "Parikesit 2000", di mana ia mendidik, melatih, menuntun dan mengarahkan sejumlah penulis muda, yang di kemudian hari menjadi penulis-penulis produktif.
Makalah juga akan mengungkap bagaimana nilai-nilai sastera yang disodorkan MRK, yang ditolak atau diabaikan dalam Sastera Indonesia, dalam Sastera Sunda justru memperoleh pengakuan yang cukup luas. MRK dianugerahi Hadiah Sastera Rancagé karena jasa-jasanya untuk Sastera Sunda. MRK adalah salah satu fenomena dalam perkembangan Sastera Sunda Modern, di samping dua fenomena lainnya, Wahyu Wibisana (WW) dan Ajip Rosidi (AR). Karya ketiganya membawa pengaruh yang luas dalam khazanah Sastera Sunda.
WW menempatkan dirinya sebagai pewaris tradisi yang mapan. Tradisi diterimanya sebagai sebuah harmoni, sehingga karya-karyanya melantunkan irama "ayun ambing" yang sejuk. AR menawarkan sisi rasionalitas yang sebelumnya hampir tidak dipersoalkan. Bagi AR, estetika tidak harus mengorbankan nalar. MRK mencoba mengadopsi nalar Barat dan memadukannya dengan keindahan Sunda. Tokoh-tokoh yang dimainkan MRK adalah perempuan (bayangan Sunan Ambu?) yang cerdas (pewaris budaya Barat) tanpa harus kehilangan naluri perempuan Sunda yang lembut dan romantis.