Penduduk yang menghuni wilayah Jawa bagian barat pada masa prasejarah agaknya telah cukup banyak. Berdasarkan peninggalannya dapat diketahui bahwa mereka tersebar di wilayah pantai, di tepi-tepi sungai, hingga daerah pedalaman yang bergunung-gunung. Mungkin jumlah penduduk itu pulalah yang telah menjadi salah satu alasan munculnya kerajaan pertama Nusantara di wilayah Jawa Barat, selain di pedalaman Kutai (Kalimantan Timur).
Maka pada sekitar abad ke-4 M berdirilah kerajaan Tarumanagara, suatu kerajaan yang bercorak kebudayaan India. Kerajaan itu telah meninggalkan bukti-bukti tertulisnya yang berupa prasasti dengan aksara Pallava. Berdasarkan temuan prasasti-prasastinya dapat pula diketahui bahwa kerajaan Tarumanagara berkembang di wilayah pantai utara Jawa bagian barat, hingga sedikit ke daerah pedalamannya. Sejarah kerajaan tersebut hingga keruntuhannya masih samar-samar, diharapkan kajian ini dapat membantu menjelaskannya.
Selanjutnya di Jawa Barat terjadi kekosongan sumber sejarah dalam waktu yang cukup panjang, hingga kemudian dari abad ke-11 terdapat prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Sri Jayabhupati di pedalaman selatan wilayah Jawa bagian barat. Banyak interpretasi tentang peranan raja ini di wilayah Jawa bagian barat. Prasasti-prasasti selanjutnya berasal dari antara abad ke-14 dan ke-15 M. Lokasi penemuannya tersebar di wilayah tenggara, timur laut, dan pedalaman Jawa Barat. Prasasti-prasasti itu dihubungkan dengan kerajaan Galuh dan Pajajaran. Namun mengacu pendapat sejumlah ahli, kerajaan yang berkembang pada masa itu hanyalah satu, yaitu kerajaan Sunda yang ibukotanya berpindah-pindah.
Kajian selanjutnya merupakan suatu tinjauan dan analisis keletakan sejumlah situs arkeologi peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut. Berdasarkan tinjauan terhadap letak dan persebaran berbagai situs penting yang masih tersisa sekarang, diharapkan dapat dihasilkan suatu pengertian awal tentang perkembangan masyarakat Sunda Kuno dalam lingkungan kerajaan-kerajaan yang berkembang di Jawa Barat antara abad ke-4 hingga abad ke-15 M. Lewat kajian ini juga diharapkan dapat diperoleh hipotesis atau hanya merupakan asumsi yang membantu menjelaskan "masa-masa gelap" dalam sejarah kuno wilayah Jawa bagian barat.