Akan dibahas fungsi berbagai acara makan bersama untuk mendirikan dan mempertahankan struktur masyarakat Sunda yang bersifat terbuka dan bersedia menerima orang luar.
Acara-acara makan bersama yang dilaksanakan pada waktu ritual seperti selamatan atau upacara pernikahan di pedesaan Sunda kelihatannya tidak begitu bersifat sosial sehingga kesannya masyarakat Sunda tidak begitu mementingkan kesempatan makan bersama. Akan tetapi, kalau kita memindahkan perhatian ke belakang panggung seperti di dapur, kita melihat banyak kesempatan untuk makan bersama yang tidak bersifat ritual, khususnya di antara perempuan. Orang-orang berkumpul selama kurang-lebih satu bulan sebelum pesta pernikahan dan bekerja untuk menyediakan makanan di dalam suasana penuh kekeluargaan sambil mengobrol dengan ramai-ramai, makan makanan yang sederhana bersama-sama, sehingga pertalian di antara pekerja dapat diperkuat.
Selain pada waktu persiapan upacara, terdapat juga berbagai acara makan bersama yaitu makan makanan yang diantarkan ke sawah atau kebun (nganteuran), acara makan nasi yang ditanak (bukan yang dikukus) dengan teman-teman yang akrab atau keluarga (ngaliwet), acara makan nasi bekal bersama di luar (botram), dan sebagainya.