Tidak benar bahwa perempuan itu invisible (tak kelihatan), dan bukan semata bayang-bayang dalam panggung sosial, tetapi perempuan justru berperan. Oleh karena itu, pembedaan manusia berdasarkan jenis (kelamin) sudah tidak relevan dan sudah bukan zamannya lagi.
Perempuan dalam konteks seni pertunjukan rakyat cukup menunjukkan bahwa mereka memiliki posisi, peranan dan fungsi gender perempuan menjadi ordinat, bukan subordinat. Dalam tradisi lisan dan tradisi lakon di Jawa Barat, perempuan merupakan orang yang "pertama" dan "utama", perempuan merupakan orang yang disakralkan dan dijaga kesakralannya, perempuan merupakan sosok populis dan dramatis, perempuan sebagai pemimpin dan penentang kekerasan dan perempuan adalah sosok yang punya prinsip dan integritas.
Perempuan-perempuan dalam tradisi lisan dan tradisi lakon Jawa Barat yang mewakili fungsi gender sebagai ordinat, di antaranya adalah Sunan Ambu, Nyi Pohaci atau Sanghyang Sri Rumbiyang Jati, Nyai Puun Purnamasari, Nyi Dewi Kembang Samboja, Dayang Sumbi, Purbasari, Diah Pitaloka, Nyai Rambut Kasih, Nyi Mas Gandasari dan masih banyak lagi.