Agama-agama besar memberikan gambaran yang cukup nyata mengenai dunia-sesudah-mati. Agama Islam mengenalnya sebagai alam barzah, yang digambarkan sebagai lapangan mahaluas tempat semua yang telah meninggal berkumpul menunggu saat hisab tiba. Gambaran alam barzah itu ternyata tidak sama dengan taman firdaus tempat tinggal Adam dan Hawa sebelum mereka diturunkan ke dunia. Kepercayaan Hindu (terutama yang berkembang di Indonesia) menganggap dunia-sesudah-mati itu adalah kayangan tempat para dewa bersemayam. Manusia dengan kualitas tertentu dapat dengan leluasa mendatangi kayangan, dan tidak jarang menyebabkan kehancuran hunian para dewa itu sebagaimana yang banyak dikisahkan dalam pewayangan.
Dalam pada itu, masyarakat Sunda di masa silam juga memiliki gambaran dunia-sesudah-mati. Gambaran mengenai hal ini diperoleh dalam sejumlah naskah lama yang ditemukan di berbagai daerah, terutama yang berasal dan kabuyutan Ciburuy. Dunia-sesudah-mati atau yang biasanya disebut dengan nama kalanggêngan itu digambarkan oleh para penulis naskah itu tak ubahnya dengan taman penuh bunga, pohon, pemandangan yang asri dan sangat indah. Tentu saja tidak terlupakan terdengar gemericik air yang mengalir di sungai-sungai jernih dalam taman itu.
Kalanggêngan itu digambarkan dengan sangat hidup, dan memperlihatkan betapa akrabnya manusia Sunda pada masa itu dengan dunia-yang-akan-datang mereka. Mungkin keakraban itu sebagai akibat betapa membetahkannya alam dan lingkungan tempat mereka hidup, sehingga sebenarnya kalanggêngan yang digambarkan itu adalah dunia tempat mereka hidup.
Dalam bagian tertentu, terdapat kesan adanya kesamaan penggambaran itu dengan suasana taman firdaus tempat Adam dan Hawa. Apakah hal itu dapat dijadikan petunjuk akan adanya pengaruh Islam terhadap kepercayaan Sunda sebelum Islam?