Dalam beberapa macam seni tradisi lisan Sunda hanya beberapa saja yang cocok dan pernah disiarkan melalui radio. Di samping seni pantun dan wayang catur, RRI Bandung pernah pula menyiarkan kesenian beluk, pembacaan wawacan, macapat dan sebagainya.
Radio-radio siaran swasta di Jawa Barat pada tahun 1970-an dan 1980- an seakan berlomba menyiarkan "dongeng" berbentuk pembacaan atau penyajian roman cerita dalam bahasa Sunda, tapi bukan dongeng dalam arti tradisi basa Sunda.
Terlepas dari pengertian tradisi lisan atau definisinya. masyarakat pendengar Jawa Barat cenderung terkesan oleh acara siaran radio yang menggunakan bahasa dan kata-kata Sunda, baik sebagai pengantar maupun materi siaran. Bagi mereka, mendengar penuturan apa pun yang dilisankan dalam bahasa Sunda merupakan kepuasan batin dan kenikmatan tersendiri. Tapi berdasarkan pengalaman praktis selama bertahun-tahun ketertarikan pendengar terhadap kata-kata yang dituturkan dalam bahasa Sunda, tergantung dari beberapa faktor. Antara lain faktor figur, seni bertutur meliputi suara, gaya bahkan improvisasi si penutur.
Sebenarnya medium radio sangat cocok untuk penyampaian tradisi lisan, sebab radio merupakan medium atau pentas imajinasi bagi pendengarnya. Bagaimanapun bahasa yang terucapkan atau bahasa lisan akan lebih berkesan dan enak dicerna dibanding bahasa tulisan.
Tradisi lisan merupakan salah satu warisan budaya Sunda. Tapi budaya selalu mengalami evolusi sejalan bergantinya generasi atau regenerasi. Dengan pemahaman terhadap karakter radio sebagai medium komunikasi massa, kekuatan magis dan kata-kata yang dilisankan, penutur dan figur yang "berwibawa" acara-acara kesundaan dalam siaran radio akan tetap eksis.
Dengan sebagian besar masyarakat Sunda yang jati diri kesundaannya masih tetap tebal, insya Allah tradisi lisan Sunda pun bisa digali kembali walau zaman telah berubah.