Soal pendidikan seni di Indonesia memiliki sejarah yang panjang sekali. Sama halnya dengan ratusan debatan, diskusi, dan seminar tentang tema ini. Berbicara tentang pendidikan seni tradisional Sunda tidak bisa dilihat terlepas dari situasi nasional serta latar belakangnya, sebab masalah sama saja, kecuali barangkali di Iingkungan sekolah kejuruan (SMKI) dan di akademi seni (STSI). Persoalan di kedua instansi ini hanya akan disentuh. Yang dibahas dalam makalah ini adalah situasi dan kebutuhan di sekolah umum serta di lingkungan perguruan tinggi kependidikan yang mempersiapkan calon guru, ditinjau dan segi historis dan fenomenologis.
Jika lama sekali dianut pendidikan seni dengan kebanyakan materi teoretis yang diambil dari Barat (khusus di bidang musik dan seni rupa), dan setelah intermezo "link and match" pada awal tahun 1990-an, yaitu pendidikan demi kebutuhan perkembangan ekonomi, maka slogan aktual saat ini adalah "otonomi daerah". Setelah mengamati ketiga ideologi ini, kelihatan bahwa masalah inti tetap sama sekali belum disentuh, walaupun pengalaman dengan "otonomi daerah" masih sangat baru.
Dalam makalah ini penulis ingin mengemukakan berbagai poin berdasarkan pengalamannya di lapangan; a) mengapa tiga konsep yang disebut di atas hampir semua gagal: b) di mana terletak masalah sebenarnya yang mesti diatasi, dan akhirnya akan dipertanyakan; c) apakah pendidikan seni tradisional memang masih perlu?