Sebagai salah satu penerbitan media cetak di Indonesia ada hal-hal yang menarik pada majalah Basa Sunda Mangle, antara lain: (a) Mulai terbit tahun 1957, sampai sekarang setelah berumur 45 tahun belum pernah berhenti terbit; (b) Mangle bertiras kecil, tanpa iklan namun tidak pernah rugi; (c) Para karyawan bekerja disertai dengan dedikasi; (d) Sebagai majalah hiburan Mangle memuat karya-karya fiksi yang berbobot dan memperoleh berbagai penghargaan; (e) Banyak pengarang yang menjadi tamu mulai menulis sebagai pengarang pemula di Mangle.
Meskipun demikian, sebagai majalah berbahasa Sunda Mangle banyak mendapat tantangan di antaranya: (a) Makin menipisnya kebanggaan sebagai manusia Sunda; (b) Persaingan dengan penerbitan lain (terutama yang berbahasa Indonesia); (c) Persaingan dengan media masa lain (elektronik, film); (d)Perangkat pracetak dan perangkat cetak yang sudah ketinggalan zaman; (e) Mangle terbit hampir tanpa promosi; (f) Para pengarang yang sudah terkenal tidak banyak lagi yang mau menulis untuk Mangle; (g) Ais Pangampih tidak lagi konsekuen atas Mangle sebagai majalah panglipur.
Dalam konteks masyarakat dan budaya Sunda, Mangle merupakan benda budaya dan aset budaya yang patut menjadi kebanggaan Ki Sunda. Kelangsungan hidup Mangle bukan semata-mata tanggung jawab Ais Pangampih dan para penmegang saham, namun tanggung jawab Ki Sunda bersama-sama. Oleh karena itu, jalan yang perlu ditempuh oleh semua pihak adalah sebagai berikut: (a) Menumbuhkan keyakinan akan pentingnya bahasa Sunda dan sastera Sunda sebagai kekayaan batin Ki Sunda; (b) Pengelolaan Mangle tidak hanya berdasarkan perhitungan laba rugi, namun juga berdasarkan pertimbangan emosional; (c) Diupayakan agar Mangle bisa hadir lebih representatif mewakili budaya Ki Sunda dalam pergaulan pers nasional dan pergaulan pers internasional; (d) Perlu tambahan dana agar Mangle tidak dikelola hanya oleh para pemilik saham keluarga; (e) Perda tentang Kesenian Sunda dari Gubernur Jawa Barat harus betul-betul dilakasanakan.